Solo Travel to Solo

Tiada yang lebih menyenangkan dari menghilangkan kegalauan dengan Traveling. Begitu pula denganku saat itu. Sebagai obat untuk menghilangkan kegalauanku, aku memutuskan untuk Solo Trip ke Solo. Lhah, kalau galau kok malah solo trip sih? Ya justru itulah blog ini dibuat.

Galau dan Traveling itu tak bisa dipisahkan

Sejatinya keinginan untuk berjalan-jalan ke Solo ini sudah lama muncul dalam benak. Keinginan untuk mengunjungi Taman Sriwedari yang diabadikan oleh Maliq and D’Essential menjadi sebuah album, makan tengkleng di Pasar Klewer, dan juga mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta.
BACA AJA LANJUTANNYA

Gunung Padang – Curug Cikondang part 2 (Buntut Panjang Keterlambatan)

Menyianyiakan waktu merupakan sebuah dosa besar yang akan berbuntut panjang

Setelah menjalani sebuah perjalanan penuh pengalaman, mulai dari menjelajahi terowongan, berjalan kaki menyusuri rumah dan sawah, naik truk hanya bermodalkan jempol, hingga mendaki tangga menuju surga yaitu puncak Gunung Padang. Beberapa pengalaman mulai dari berjalan kaki sampai dicium oleh ranting yang berujung pada luka di alis sebelah kiri sudah aku rasakan namun cerita kali ini lebih seru dan menegangkan. Menuju ke Curug Cikondang yang penuh dengan tantangan, hanya berbekal harapan dan imajinasi yang menuntun kami ke sana.

Curug Cikondang

Sekitar jam 17.00 kami meneruskan perjalanan kami dari warung yang super murah dan ibunya yang baik hati di area Gunung Padang. Petunjuk yang diberikan ibu penjaga warung tersebut cukup jelas, “ikuti saja jalan setapak lewat Gunung Rosa sampai ketemu jalan raya, nanti sudah dekat dan tinggal turun menuju curug dengan waktu tempuh kira-kira 1 jam perjalanan”. Kami dengan mantap mulai berjalan setapak demi setapak menyusuri persawahan. Pemandangan yang sangat indah di sisi kiri perjalanan dengan terasering persawahan. Sesuai ekspektasi tanah desa yang asri ditambah dengan suasana sehabis hujan yang cukup sejuk.

Perjalanan kali ini lebih menantang, jika dibandingkan dengan menyusuri persawahan pada perjalanan sebelumnya. Jalanan yang ditempuh becek sehabis hujan, perjalanan tidak bisa cepat meskipun baru saja mengisi tenaga di warung tadi. Jalanan licin bercampur lumpur membuat kami harus berhati-hati memilih jalan yang bisa dilewati, salah-salah bisa terpeleset seperti yang terjadi pada mas Adit (#kamusabaro mas adit). Selain harus pandai-pandai memilih jodoh jalan, ternyata peralatan awal wajib bawa yang kemarin disepakati sangat menentukan. Kali ini banyak korbannya, beberapa orang tidak menggunakan alas kaki yang standar yang menyebabkan sering kali terpelosok, terpelest, dan terlambat datang bulan *lah.
baca aja lanjutannya