Pesisire Inyong: Menjelajah di Kampung Laut Cilacap

Azan Subuh sudah berkumandang beberapa waktu lalu saat aku masih berada di dalam kereta Wijayakusuma dalam perjalanan menuju Cilacap. Biasanya, orang-orang akan mengunjungi Cilacap dengan tujuan untuk bekerja, mengingat Cilacap memiliki sebuah kilang minyak besar yang dikelola oleh perusahaan minyak milik negara, Pertamina.

Namun, berbeda denganku saat itu, yang datang ke Cilacap atas undangan sebuah komunitas bentukan Pertamina dengan tujuan mengunjungi Kampung Laut, sebuah kampung binaan Pertamina di Cilacap.

******

Kilas balik pada beberapa waktu sebelumnya. “Gallant, kamu coba ikut acara ini,” sebuah pesan dari Mas Iqbal Kautsar yang ia kirimkan masuk melalui Direct Message di Instagram. Dalam pesan tersebut, Mas Iqbal Kautsar juga melampirkan poster dari sebuah acara dengan judul Pesisire Inyong. Terdapat ajakan bagi siapa saja yang ingin turut serta bergabung berpelesir ke pesisir di Kampung Laut dalam poster tersebut. Tanpa basa-basi, aku langsung mengiyakan pesan Mas Iqbal Kautsar yang aku anggap sebagai perintah tersebut. Tentu saja dengan asumsi Mas Iqbal Kautsar sedang turut serta dan mencari teman untuk diajak. Sayangnya asumsi ini langsung terpatahkan begitu saja.

Syahdan, setelah menerima konfirmasi peserta yang ikut, aku bergegas untuk mengemas beberapa barang yang aku anggap perlu seperti baju ganti, kamera dengan baterai yang terisi penuh, hingga tripod. Tidak banyak transportasi yang bisa mengantarku agar tiba Cilacap pada pagi hari. Aku menjatuhkan pilihan pada kereta Wijayakusuma yang berangkat dari stasiun Yogyakarta pada tengah malam dan tiba di Cilacap sekitar pukul lima pagi. Pertimbangan lainnya adalah karena ada tarif khusus seharga Rp 60.000,- yang lebih murah daripada bus.

Suasana Stasiun Tugu Menjelang Tengah Malam

Tarif Khusus kereta adalah tarif tiket yang dijual oleh PT. Kereta Api Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah dari tarif normal. Tarif ini hanya berlaku pada tujuan dan kereta tertentu. Biasanya tarif ini muncul pada kereta-kereta yang akan tiba di stasiun tujuan akhirnya. Misalnya, ada tarif khusus Purwokerto-Yogyakarta untuk kereta dengan tujuan akhir stasiun Yogyakarta dan sebaliknya. Atau kereta yang stasiun keberangkatan pertamanya di Yogyakarta dengan tujuan Purwokerto dan sebaliknya. Tarif ini hanya akan muncul pada dua jam sebelum keberangkatan, bisa dicek dan dipesan melalui website resmi Kereta Api Indonesia, aplikasi KAI Access, atau di loket stasiun.

Kereta Wijayakusuma tiba ketika matahari baru menampakkan sedikit sinarnya tepat ketika orang-orang baru saja keluar dari masjid. Mereka tuntas menunaikan ibadah salat Subuh. Sementara aku bergegas ke luar stasiun dan berjalan menuju Masjid Agung Cilacap untuk menumpang mandi dan salat Subuh.

Baca juga: Menjajal Mewahnya Kereta Jayakarta Premium

Pagi di Cilacap

Mencari sarapan ketika libur akhir pekan di Cilacap ternyata bukan perkara yang mudah. Pagi itu, ketika matahari sudah mulai menerangi Cilacap, tidak banyak aktivitas masyarakatnya yang tampak di jalan-jalan utama. Jalanan sepi sekali. Aku tidak tahu, apakah setiap harinya Cilacap seperti ini atau pada hari-hari tertentu saja atau karena ini masih terlalu pagi. Kebetulan hari ini adalah libur akhir pekan. Hanya ada satu atau dua anak dengan usia kira-kira masih SMP yang bersepeda atau berfoto pada pagi hari di sekitar alun-alun.

Masjid Agung Cilacap
Kelenteng Lam Tjeng Kiong di Jalan RE Martadinata Cilacap

Aku berjalan-jalan pagi dari Masjid Agung Cilacap menuju ke Pasar Gede, melewati sebuah kelenteng yang terlihat tak terlalu besar dari luar. Sembari dipikir-pikir, di Jalan RE Martadinata ini kutemukan beberapa bangunan berfasad tionghoa masa lalu. Ada juga restoran masakan China yang berdiri tepat di perempatan jalan, di sisi sebelah timur, tidak jauh dari kelenteng. Masih di sekitar kelenteng juga, ke arah barat, ada pasar tradisional yang sudah tak lagi tradisional bernama Pasar Gede. Pasar ini lebih cocok sebagai pasar modern. Sepertinya Pasar Gede Cilacap pernah mengalami renovasi, sehingga sudah bersih, dengan pedagang yang tertata rapi, hampir seperti Pasar Beringharjo.

Dari Pasar Gede, aku melanjutkan ke titik pertemuan acara Pesisire Inyong di Pelabuhan Saloka.

Aneka Makanan Tradisional di Pasar Gede Cilacap

Mengarungi Laut Menuju Kampung Laut

Proses admininstrasi dan briefing berjalan lancar. Total kurang lebih ada dua puluh peserta beserta beberapa kru panitia yang tergabung dalam rombongan Pesisire Inyong batch pertama ini. Dari seluruh peserta, tentu saja aku yang paling jauh, paling asing, dan sendirian. Yang lain kebanyakan datang bersama teman, bahkan istri.

Rasanya diundang untuk acara seperti ini sudah sangat lama. Terakhir mendapat undangan acara begini oleh Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah tahun 2017. Artinya sudah dua-tiga tahun lalu. Bedanya, kali ini tidak diundang sebagai blogger. Bahkan kewajiban peserta hanya sharing di sosial media Instagram saja. Ini sekaligus menjadi penegas bahwa postingan ini bukan sebagai kewajiban, melainkan keinginan pribadi untuk menuliskan pengalaman baru ini.

Pelabuhan Saloka yang tidak lebih besar dari Pelabuhan Ketapang atau Gilimanuk ini ternyata menjadi tempat bongkar muat kapal-kapal dagang berukuran besar. Dermaga dipisahkan antara dermaga khusus kapal-kapal dagang berukuran besar dengan kapal wisata dan nelayan yang berukuran kecil. Dari kapal-kapal (atau yang lebih tepat disebut perahu atau sampan) wisata inilah salah satu cara untuk menuju ke Kampung Laut di seberang sana.

Kapal Besar yang Tengah Sandar di Pelabuhan Saloka Cilacap

Kami segera menaiki perahu berukuran kecil, dengan mesin diesel sebagai penggerak dari dermaga khusus perahu wisata menuju ke Kampung Laut. Dari ini terlihat dermaga lain yang menjadi tempat kapal berukuran besar. Perahu yang kami tumpangi ini jauh lebih kecil dari kapal tersebut. Bahkan mungkin tidak terlihat dari tempat nakhoda kapal besar itu. Jadi, kalau tertabrak, kapal besar itu mungkin tidak akan merasakan apa-apa.

Sebelum perahu berangkat, para panitia membagikan jajanan untuk makan pagi dan pelampung. Peserta dibebaskan untuk menempati perahu. Aku memilih sisi kiri agar tidak langsung berhadapan dengan matahari. Mesin perahu dinyalakan, tali dilepaskan dari pengikat, perahu perlahan meninggalkan dermaga. Perjalanan menyeberang ke Kampung Laut ini memerlukan waktu kurang lebih satu hingga satu setengah jam.

Pemandangan Saat Melintas Laut Menuju Kampung Laut

Langit sangat cerah, awan-awan putih dengan langit berwarna biru, matahari terang menerangi selama perjalanan. Perahu masih perlahan-lahan melaju di atas laut. Laut juga sangat tenang. Tidak ada ombak yang membuat perahu dapat berjalan lancar tanpa goncangan.

Dari lautan yang luas, kami mulai memasuki perairan yang lebih sempit, seperti berada di muara. Panitia memberitahukan pada kami dengan sedikit berteriak, bahwa daratan di sisi kiri perahu itu adalah tempat yang paling mengerikan: Lapas Nusa Kambangan. Tentu saja aku menjadi antusias.

Cerita tentang Lapas Nusa Kambangan yang begitu menyeramkan, tempat para terpidana kelas satu adalah cerita-cerita yang paling sering kudengar. Kabarnya pula, di sekitar Lapas, masih di dalam pulau Nusa Kambangan, terdapat berbagai hutan dengan hewan liar yang mengerikan seperti harimau dan ular-ular berbisa. Tujuannya agar para tahanan tersebut tidak kabur. Atau setidaknya, mereka bisa mati bila bertemu hewan-hewan berbahaya tersebut.

Namun, aku tidak menyangka bahwa pulau Nusa Kambangan itu kini di depan mata. Sekilas tidak ada hal yang mengerikan seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Sesekali memang tampak dinding-dinding yang cukup tinggi. Atau gerbang-gerbang kosong yang tertutup. Bahkan aku sempat melihat ada perahu yang karam, meski aku tak tahu itu perahu siapa dan mengapa bisa karam.

Perahu Rusak dan Gerbang ke Lapas

Kami sudah semakin mendekati Kampung Laut yang ditandai dengan beberapa penunjuk arah. Kami mulai memasuki lorong-lorong perairan yang lebih mirip seperti labirin air. Bedanya, ada sedikit penunjuk arah menuju Kampung Laut untuk mencegah tersesat. Sinyal telepon seluler pun semakin menghilang. Telkomsel sekalipun.

Perahu mulai memasuki lorong-lorong sempit dengan pohon-pohon bakau yang berjajar rapat. Tak lama kemudian perahu berhenti di sebuah gerbang. Kami tiba di Kampung Laut.

Muara dan Lorong-Lorong Perairan

Menjelajah Kampung Laut

Sebelum kami mulai menjelajahi Kampung Laut, kami diajak untuk mendengarkan beberapa informasi dari pengelola hutan Mangrove di Kampung Laut. Kegiatan kami sepenuhnya akan terpusat di hutan Mangrove ini.

Di sela-sela penjelasan, aku bertanya, “Bapak, apakah perbedaan dari Mangrove dan Bakau?”

Pertanyaan yang tergolong bodoh menurutku, tetapi memang karena aku penasaran. Aku sendiri sudah sering membaca dan pernah berkunjung ke hutan Mangrove. Salah satunya di Hutan Mangrove Wonorejo, Surabaya. Di tempat itu, di sebuah informasi yang aku baca menyebutkan Mangrove, sementara ada pula yang menyebutkan Bakau. Sebab aku bukan lulusan Biologi, Kehutanan, dan jurusan lain yang berkaitan dengan tanaman, aku sendiri tidak bisa membedakan antara Mangrove dan Bakau. Bahkan menurutku itu jenis tanaman yang sama. Padahal bisa jadi dengan bentuk daun dan batang yang mirip tidak berarti satu spesies. Contohnya daun ketela dan daun ganja yang memiliki bentuk daun yang hampir sama.

“Sebetulnya tidak ada perbedaan antara Mangrove dan Bakau, Mas. Nama tanamannya Pohon Bakau, sementara kalau berbentuk hutan disebut Hutan Mangrove.” Ujar Pak Wahono tersebut menjawab pertanyaanku. Lega rasanya.

Perhatianku sudah mulai teralihkan, aku tidak lagi serius mendengarkan penjelasan dari bapak tersebut. Sekilas yang aku tangkap, tanaman Mangrove atau Bakau ini dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh mereka mulai dari buah hingga daunnya. Di Kampung Laut, mereka berhasil mengembangkan kurang lebih dua puluh jenis tanaman Bakau ini.

Anjungan Hutan Mangrove di Kampung Laut
Menuju Ujung Anjungan

Kami diajak masuk ke dalam kawasan hutan Mangrove yang sudah dibuat sedemikian rupa agar wisatawan bisa sangat nyaman. Anjungan dari kayu dengan jalan berupa cor beton dibuat sebagai media para wisatawan melangkahkan kaki. Anjungan kayu juga dicat warna-warni agar tampak kekinian, lebih berwarna agar bagus di foto, dan tidak monoton.

Sebelum masuk lebih dalam, kami diajak untuk turut menanam pohon Bakau pada lahan yang sudah disediakan. Bibit-bibit pohon bakau yang bagian akarnya terlindungi oleh polybag berukuran kecil dibagikan secara gratis. Kami diminta untuk menanam bibit pohon tersebut pada lubang yang sudah disediakan. Aku sempat bertanya apakah perlu untuk melepas polybag yang dijawab tidak perlu oleh panitia. Alasannya, karena polybag ini akan membantu menahan bibit dari terjangan air laut saat pasang nanti. Aku sendiri sempat heran karena lahan saat itu sangat kering. Bagaimana mungkin lahan ini terkena pasang air laut?

Menanam Bibit Pohon Bakau di Lahan Kering

Kami terus diajak masuk ke dalam area. Sesekali berpapasan dengan pemuda-pemudi lokal yang turut ingin menghabiskan waktu akhir pekan dengan mengunjungi kawasan hutan Mangrove. Dalam sebuah pondokan kecil, berlantai dua, berukuran kurang lebih 2×2 meter, kami dibelokkan.

Di sini kami diajak untuk belajar membatik dengan media lilin yang bahannya berasal dari tanaman Bakau. Seorang bapak yang memperkenalkan dirinya bernama Emen (bukan nama sebenarnya) menjadi pengajar kami dan dibantu dengan dua ibu-ibu.

Elvi Belajar Membatik
Contoh Batik Mangrove

Batik mangrove menjadi ciri khas dari Kampung Laut. Proses membatik dilakukan seperti pada umumnya menggunakan canting, kompor, dan lilin. Motif-motif udang, kepiting, dan mangrove menjadi motif utama dalam batik mangrove yang sudah dikembangkan oleh kelompok Mekar Canting sejak beberapa tahun lalu.

Kami terus menyusuri hingga bertemu ujung anjungan. Ujung anjungan ini berupa sebuah menara pandang tiga lantai yang tersusun oleh kayu-kayu. Masing-masing dari kami diperbolehkan naik ke atas dengan batasan jumlah pengunjung tertentu. Di atas, kami bisa melihat hamparan luas hutan Mangrove yang ada di Kampung Laut ini. Angin terasa sepoi-sepoi, mengaburkan cuaca yang sedang terik-teriknya. Atap menara menutupi, cukup membuat siapapun yang berada di sini tidak akan kepanasan.

Anak-Anak Kampung Laut Bermain
Pak Emen Memperagakan Cara Membatik

Kampung Laut menjadi kampung yang menjadi binaan dari Pertamina yang dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata khusus di Cilacap. Aku sendiri tidak sempat berkunjung melihat-lihat Kampung Laut secara keseluruhan. Namun dari penuturan seorang kawan, di Kampung Laut ini sudah tersedia fasilitas yang sangat lengkap mulai dari puskesmas hingga sekolah. Untuk yang ingin berkunjung di Kampung Laut bisa menginap pada rumah-rumah warga yang disulap menjadi homestay. Sayangnya harus ada orang dalam, komunitas, atau travel yang menjadi penghubung antara pengunjung dengan homestay.

Selain batik, Kampung Laut juga berhasil membuat olahan mangrove menjadi beberapa makanan kecil. Rasanya masih cukup aneh, gurih dengan sedikit pahit. Yang paling menarik adalah keripik daun jeruju yang rasanya mirip rempeyek bayam. Harganya juga sangat terjangkau. Aku membeli dua bungkus untuk kubawa pulang. Ekosistem Mangrove ini membawa keberkahan sendiri baik bagi spesies seperti ikan dan udang kecil. Mereka bisa tinggal dan mencari makan di akar-akar pohon. Ekosistem Mangrove juga bisa melindungi wilayah daratan dari bencana tsunami. Ekosistem Mangrove ini sangat penting bagi lingkungan di pesisir sehingga harus dijaga dengan baik.

Berfoto dengan Batik Mangrove
Sampel Camilan dari Mangrove

Selepas makan siang dan bermain mini game, kami diajak kembali ke Pelabuhan Saloka. Terima kasih, tim Pesisire Inyong.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Pesisire Inyong Mandiri (@pesisireinyong) on

 

Author: Gallant Tsany Abdillah

Suka jalan-jalan dan menggalau tentang apapun. Pengen punya kamera (dan pacar) sendiri. Kerjasama dapat menghubungi ke alamat email: gallanttsany@gmail.com

22 thoughts on “Pesisire Inyong: Menjelajah di Kampung Laut Cilacap”

  1. Meskipun tulisan cukup panjang nggak bosen baca sampai selesai mas haha. Dulu pernah baca bedanya bakau dan mangrove di captionmu mas, tapi setelah baca lagi semakin paham, soalnya kirain ya sama aja. Ternyata dibedakan pas jomlo sama pas jadi hutan.

    Penasaran sama rasa keripik daun jeruju-nya

    1. aku dulu begitu turun dan ada penjelasan soal itu, langsung inget tentang itu mbak. soalnya ada yang nulis bakau, ada yang nulis mangrove. padahal buatku mereka ini punya bentuk daun, batang, yang sama. tapi kenapa ada beda. ternyata dijawab sudah.

      keripik daun jerujunya sih yang enak buatku. kalo yang jajan lainnya kayak ada pahitnya yang aku kurang suka. tapi overall pasti rasanya gurih.

      terima kasih, mbak.

  2. Cukup ‘padat’ juga ya paket kegiatan yang ditawarkan dalam Pesisire Inyong ini. Mulai dari lingkungan, budaya, sampai kuliner. Semoga saja masukannya bisa didengar pemerintah lokal atau pengelola pariiwisata di sana, mas, jadi nanti semoga lebih mudah buat wisatawan yang mau berkunjung. Soalnya kalau harus punya penghubung atau orang dalam kalau mau menginap di sana kan agak susah ya. Btw untuk pengembangan wisata di kampung laut ini apakah ada kontribusi CSR dari pertaminanya, Mas?

    Pas kunjungan ini ga sempat melipir ke Nusa Kambangan ya Mas? Penasaran juga ngeliat foto pulaunya. Pernah baca di mana gitu, katanya selat yang membatasi Pulau Jawa dengan Nusa Kambangan semakin lama makin tebal endapannya. Diprediksi dalam satu dua dekade ke depan, Pulau Nusa Kambangan akan menyatu dengan daratan Pulau Jawa sehingga tidak lagi menjadi ‘pulau’ sendiri. Sama seperti yang sudah terjadi dengan Pulau Jepara yang sudah duluan menyatu dengan induknya hehe.

    1. aamiiiiiinn.
      nah sebetulnya pengembangan wisata kampung laut ini memang CSR dari pertamina. termasuk pengembangan hutan mangrove-nya ini. cuma memang mungkin belum dibikin secara maksimal pengembangan wisatanya. padahal menurutku sendiri kampung laut ini nggak cukup buat dijelajahi sendirian. ada beberapa cerita yang aku dengar dan ini sangat menarik sebetulnya. namun karena udah panjang banget artikelnya, lebih baik aku ceritakan sambil ngobrol aja. haha.

      ternyataaaa. kampung laut ini udah masuk ke Nusa Kambangan haha. dan bener, lama-lama memang nusa kambangan nyatu sama pulau jawa. soalnya kampung laut di sisi yang lain ini sudah ada jembatan (CMIIW semoga dibaca sama panitia dan dikoreksi) yang terhubung ke daratan utama pulau jawa. cuma karena aku mainnya ke anjungan mangrove, jadi dilewatin laut, soalnya kalo lewat kampung nanti muter terlalu jauh. buktinya ada warga lokal kampung laut yang main, mereka jalan kaki aja dari kampung. sayangnya aku sendiri waktu itu belum berani muter-muter lebih dalem ke kampungnya, masih takut nyasar, apalagi ini ikut acara, nanti kalo nyasar, baliknya lama dicariin panitia.

      rasanya sangat kurang banget kalo cuma beberapa jam di kampung laut, minimal harus nginep semalem. soalnya mereka juga punya sajian kuliner yang lezat.

      1. Wah beneran masuk pulau Nusa Kambangan ternyata itungannya ya :))

        Berarti lama-lama ke kampung itu ga perlu naik kapal lagi. Nunggu pulaunya nyambung total ntar juga dibangun jalan beraspal hehehe.

  3. astaga mas Gall, aku tuh pengin banget main ke kampung laut blm kesampaian karena minim informasi untuk ke sana, kata temenku yg tinggal dicilacap nggak setiap hari ada perahu untuk transport kesananya, huhu. pengen bgt nginep disana masa, wwkwk

  4. Mendengar kata laut aku berharap ada foto-foto makanan laut seperti lobster, cumi, dan kerabatnya huwahahahaha. Tibaknya kegiatannya cuma membatik saja yak. Jadi ke penjara yang terkenal itu nggak di Nusa Kambangan?

  5. Belum pernah ke Kampung Laut saya, Mas? Hanya nyampe di Teluk Penyu Cilacap. Itu pun waktu Teluk Penyu masih punya sedikit tradisi “Bar-Bar” haha..Membaca tulisan Mas Gall, jadi kepingin kembali ke Cilacap. Masih ada Benteng Pendem, dan destinasi lain yang ingin segera aku tulis.

    Salam…

    1. wah saya malah belum ke mana-mana di Cilacap. hanya ke kampung laut saja. tradisi bar-bar apa itu yang dimaksud di teluk penyu? kok sepertinya menarik dan sepertinya saya juga masih harus lebih lama lagi main ke Cilacap. 😀

  6. Nggak hanya di Indonesia timur, di Cilacap aja langitnya bisa sebiru dan sebening itu!
    Liat kelentengnya aku inget Kelenteng Dewi Kwam In di sekitaran 10 Ulu Palembang. Lebih gede sedikit aja ukurannya tapi tipikal kelenteng rata-rata sama ya 🙂

    1. kebetulan waktu cerah banget sih Om 😀
      sepertinya memang tipikal kelenteng ya begitu-begitu aja sih. soal ukuran mungkin karena etnis di cilacap nggak sebanyak di palembang.

      oh dan satu lagi, aku belum masuk ke dalam kelentengnya, jadi nggak tau seluas apa ahaha

  7. Apakah pelabuhan ini yang digunakan untuk penyeberangan kapal dari Cilacap ke Lapas? Aku pernah ke pelabuhan kecilnya, namanya pelabuhan Sleko. Di sana memang tidak jauh dari tempat pembuatan kapal. Tapi gak singgah di kapalnya.

Leave a Reply to jelajahlangkah Cancel reply