Perjalanan 8 Mahasiswa Mendaki Gunung Lawu – Bagian 1

Entah bagaimana dan siapa yang memulai, tiba-tiba sebuah rencana mendaki Gunung Lawu telah dibuat. Tepat delapan orang: Aku, Anti, Sukma, Ebeng, Aris, Chuz, Havid, dan Fernanto bersepakat untuk mendakinya bersama-sama. Kami semua adalah teman kuliah satu angkatan, bersepakat akan mendaki pada hari Sabtu dan pulang pada esok harinya. Perjalanan ini terjadi sekitar 7 tahun silam.

******

Menunggu di Stasiun Solo Balapan

Dari 8 mahasiswa tersebut, mungkin hanya ada satu atau dua anak saja yang sudah terlatih mendaki gunung. Bahkan, mungkin hanya Sukma, satu-satunya mahasiswa yang aktif mengikuti kegiatan pecinta alam di kampus. Tak pelak, kami agak memaksanya untuk ikut saat itu, mengingat sisanya hanyalah mahasiswa amatir yang mungkin pengalamanannya sebatas pernah mengikuti kegiatan jerit malam saat sekolah dulu.

Boleh dianggap sebagai yang paling amatir, aku dan Havid mempersiapkan diri dengan banyak melakukan jogging sore hari selepas kuliah. Sesekali juga bertanya kepada kawan di kos yang sudah lebih ahli mendaki tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan, juga bagaimana medan yang akan ditempuh nantinya. Aku ibarat kembali menjadi anak sekolah yang akan mengikuti study tour.

Beberapa persiapan kami lakukan mulai dari menyiapkan tas carrier, logistik, tenda, dan membuat daftar apa saja yang harus dibawa seperti lampu senter, jas hujan, hingga beberapa potong baju yang cukup hangat. Tak lupa juga dengan rencana perjalanan dan biaya yang harus dikeluarkan, termasuk di dalamnya tiket kereta Prameks dan transportasi lain yang dibutuhkan untuk mencapai base camp.

Sabtu pagi, kami semua telah tiba di Stasiun Lempuyangan dengan segala peralatan seperti yang sudah menjadi stigma para pendaki gunung: Tas Carrier yang berukuran jumbo yang di kanan dan kirinya terdapat botol air mineral, jaket yang mungkin kurang ideal untuk mendaki, dan tentu saja dilengkapi sandal dan sepatu gunung. Sudah sangat anak gunung sekali, bukan?!

Kami tiba di terminal bus Tawangmangu sekitar pukul 14.00. Selesai mengisi perut dan menunaikan ibadah salat, perjalanan menuju base camp Cemara Sewu dilanjutkan dengan menggunakan mobil L300 berplat hitam.

Mobil ini menjadi sarana transportasi paling memungkinkan, selain ojek motor, menuju base camp di Cemoro Kandang maupun Cemoro Sewu. Mobil ini menjadi sarana transportasi bagi warga lokal yang bepergian untuk berbelanja dan mengangkut hasil bumi. Tidak jarang ibu-ibu yang menjadi penumpang ini sudah kenal akrab dengan supir.

Para supir ini sudah sangat akrab dengan para pendaki. Mereka akan langsung mendekati dan menawarkan untuk mengantar para pendaki menuju base camp di Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Seingatku, tarifnya sangat murah, sekitar Rp 5.000,- per kepala saat itu. Bapak supir ini biasanya juga akan menawarkan untuk menjemput para pendaki gunung kembali menuju Tawangmangu. Caranya cukup janjian dengan supir di mana dan kapan pendaki akan dijemput.

Pemandangan Selama Perjalanan

Kami pun sama. Setelah meminta nomor bapak supir, kami janjian untuk minta dijemput kembali di base camp Cemoro Sewu pada sore keesokan harinya. Ini tentu lebih mudah, karena ketika sore, transportasi dari Cemoro Sewu ke Tawangmangu sudah semakin jarang.

Setiba di gerbang base camp Cemoro Sewu, Ebeng dan Sukma mengurus administrasi termasuk membayar biaya masuk, sementara yang lain memilih pergi ke kamar kecil dan bersiap-siap. Aku yang sempat bertukar sandal gunung tadi berusaha membetulkan kembali posisi sandal karena ternyata terlalu kecil dari ukuran kakiku.

Foto di Depan Gerbang sebagai Pelengkap

Pendakian diawali dengan berdoa bersama. Kami mulai melangkah meninggalkan base camp pada pukul 15.00, sudah cukup sore memang, terutama bila kami berusaha mengejar agar bisa tiba di pos 5 secepatnya. Ini adalah sebuah tantangan yang cukup memaksa mengingat kami hanyalah para pendaki gunung amatir. Dan tentu saja, awal-awal perjalanan ini kami begitu bersemangat sehingga tempo berjalan kami cukup cepat.

Dari base camp menuju Pos 1 lintas medan berupa batu dan sesekali berupa padang rumput. Batu-batu tertata rapi seperti jalan makadam antar desa. Jarak dari base camp menuju Pos 1 memang cukup jauh, tetapi tidak terlalu memberatkan kami karena sudut yang landai. Semangat kami begitu menggebu karena ini adalah pendakian pertama. Sesekali kami mengambil jeda beristirahat meski tidak lama, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan tempo yang tidak juga turun.  Beberapa kali juga diselingi dengan mengobrol dan bercanda, sekadar agar perjalanan tidak terasa membosankan. Sesekali juga kami mengambil perbekalan sebagai teman selama perjalanan. Atau berfoto, mengabadikan perjalanan.

Istirahat Sejenak

Langit masih terang ketika kami tiba di sebuah pos yang kami anggap sebagai pos 1. Sekelompok pendaki yang turun sedang beristirahat.  Di sana ada sebuah bangunan kecil berukuran sekitar 2×2 meter. Seorang ibu dan bapak menggunakan bangunan tersebut sebagai warung. Mereka menjual beberapa makanan ringan termasuk snack dan gorengan seperti bakwan (disebut juga ote-ote atau weci di daerah lain). Ada juga anjing penjaga yang cukup membuatku keder.

Kami melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sejenak barang satu dua menit. Tempo sedikit kami perlambat karena menyadari bahwa perjalanan masih sangat panjang. Dari Pos 1 ke Pos 2 juga membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama. Kami harus tetap menghemat tenaga. Perjalanan panjang membuat kami harus melewati batas waktu sore menuju malam.

Istirahat Lagi

Sepanjang perjalanan tersebut kami mulai lebih banyak beristirahat karena rasa lelah. Dimulai dengan mengurut dan meluruskan kaki, mengambil bekal seperti roti dan madu untuk mengisi tenaga. Kami mulai mengubur target awal untuk mendirikan tenda di Pos 5 dan mengejar sunrise.

Langit mulai gelap. Sesekali melalui celah pepohonan dan jurang, tampak kerlip lampu kota. Hanya lampu senter yang menerangi perjalanan. Sinyal sudah mulai hilang. Di Pos 2 kami hanya beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Selama perjalanan, tidak ada rombongan pendaki lain yang tampak, baik di depan atau di belakang kami. Kami juga mulai lebih banyak diam.

Hujan mulai turun, gerimis perlahan, kami menghentikan langkah, mengambil jas hujan dari dalam tas, memasangkan pada tubuh kami, lalu melanjutkan perjalanan. Beruntung pohon-pohon di tengah hutan ini bisa menahan air hujan agar tidak menerpa kami sehingga kami hanya dalam kondisi setengah basah. Cuaca di gunung memang cukup labil. Terbukti dalam waktu singkat hujan sudah reda, tetapi tak berapa lama hujan turun kembali, hingga kemudian reda kembali.

Berfoto saat Istirahat
Istirahat Terus

Havid sudah mulai tampak kelelahan. Waktu sudah mulai menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sedikit egoku berharap kami masih kuat berjalan sampai pos 5 agar bisa mencari sunrise di puncak. Namun, melihat kawanku seperti ini aku tidak tega.

“Yang penting, sampai Pos 3 dulu.” Kira-kira begitulah kata-kata penyemangat yang terlontar. Di tengah perjalanan ini kami berhenti cukup lama. Beruntung tak ada rombongan pendaki lain membuat kami lebih bebas untuk beristirahat di jalan. Havid meminta sebuah roti untuk mengganjal perut. Kami sebetulnya juga sama lelahnya. Kalian bahkan boleh mengatai kami lemah, tetapi memang begitulah kondisi kami. Sekelompok pendaki amatir yang baru saja melewatkan perjalanan dari Yogyakarta – Solo – Tawangmangu dan dilanjutkan dengan mendaki gunung.

Kami tiba di Pos 3 dengan tanda berupa sebuah gubuk  yang berukuran cukup luas bagi kami berdelapan ini. Sayangnya, gubuk ini tidak layak huni karena atapnya yang bocor, seperti desas-desus yang kami dengar di awal perjalanan. Kabarnya, semalam terjadi hujan deras yang membuat atap Pos 3 menjadi rusak.

Tak kuat menahan lelah, kami akhirnya memutuskan mendirikan tenda di seberang gubuk tersebut. Kami mencari-cari lokasi yang tepat, tidak berada di tengah jalan, tetapi juga tidak terlalu menepi, dan cukup datar. Salah-salah kami malah jatuh ke jurang. Kami saling berbagi tugas, ada yang membangun tenda, ada juga yang membuat persiapan memasak.

Tenda terbangun, makan malam sudah siap. Saat yang lain makan malam, Anti justru memilih masuk ke dalam sleeping bag setelah meminum teh hangat. Rasa lelahnya ternyata lebih kuat daripada rasa lapar. Di gunung seperti ini, sepiring Indomie pun rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat.

Meski sempat hujan di tengah perjalanan tadi, sisa malam kami begitu cerah. Beberapa rombongan pendaki ada yang mampir ke tenda kami, sekadar menyapa lalu pergi, ada juga yang ikut membangun tenda di sekitar tempat kami. Kami merancang ulang rencana perjalanan pagi hari. Sebagian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, berharap bisa berangkat sedini mungkin agar tetap bisa mendapatkan sunrise. Sebagian lain memutuskan menahan diri dan menjaga tenda.

“Puncak bisa digapai kali lain,” Ucapan Aris yang masih aku ingat saat itu. Sebuah pilihan yang bijak karena tidak semua pendaki menargetkan puncak. Sebagian memilih menikmati perjalanan. Sebagian lain menahan ego. Namun, semuanya sama satu tujuan, bisa kembali pulang dengan selamat sehingga hari Senin bisa masuk kuliah kembali.

Langit begitu cerah. Malam begitu sunyi. Hanya sesekali derap langkah para pendaki terdengar. Sebagian dari kami ada yang berjaga di luar tenda. Sebagian lain, termasuk aku memilih untuk masuk ke dalam sleeping bag, beristirahat karena akan melanjutkan perjalanan ke puncak pada pagi hari.

Author: Gallant Tsany Abdillah

Suka jalan-jalan dan menggalau tentang apapun. Pengen punya kamera (dan pacar) sendiri. Kerjasama dapat menghubungi ke alamat email: gallanttsany@gmail.com

13 thoughts on “Perjalanan 8 Mahasiswa Mendaki Gunung Lawu – Bagian 1”

  1. Blognya memang disetting ga muncul tumbol like sama follow nya ya, Mas? 😀
    Soalnya jadi ga muncul postingannya di reader hehe.

  2. yeayyy, kok aku baru tahu ada blog ini ya mas. huhu
    kudet nih aku, memang kl mendaki gunung yg terpenting adalah solidaritas yak, nggak bisa mentingin ego demi liat sunrise sedangkan liat teman aja kelelahan. Jd kangen naik gunung lagi

  3. Gunung Lawu menjadi saksi bisu debut saya dalam dunia mendaki gunung.
    Waktu itu 2011, dilibur semester 5 (mau masuk semester 6)
    pendakian malam hari, dimulai dari Cemoro Sewu, tekto pula, weleh2, anak gunung baru sekali mendaki malah diajakin tektok. Belum lagi peralatan pendakian yang jauh dari kata memadai (maklumlah, namanya juga mahasiswa). Untungnya berkat teman2 sanggup sampai Puncak Hargo Dumilah.

Komen aja dulu, nanti dikomen balik