Menganti dan Sawangan yang Bercerita – Sebuah Surat Cinta dari Jawa Tengah

“Kamu masih ingat kapan dan bagaimana kita bisa bertemu kali pertama?” Tanyamu saat itu.

“Kamu tahu sendiri aku bukanlah orang yang pandai dalam hal ingatan,” kataku.

“Ceritakan saja padaku, hal yang kau ingat saat kita bertemu.” Kau menyandarkan kepalamu di bahuku.

Baiklah. Akan kuceritakan semampuku.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Braga Tempat Sempurna untuk Jatuh Cinta

Aku tengah duduk di dalam bangku kereta dengan sandaran yang tegak lurus, membentuk sudut sembilan puluh derajat. Malam itu cerah, meneruskan langit sore yang berwarna merah merekah. Sementara itu, pendingin ruangan menyemburkan udara dingin yang teramat kencang, beberapa penumpang tampak kedinginan dan mengenakan jaket-jaket tebal mereka. Aku melihat ke luar jendela. Sesekali hanya gelap yang tampak, sesekali hanya rumah-rumah yang sepi dengan lampu remang-remangnya. Lantas aku berpikir, ketika para penghuni rumah sedang asyik bercengkerama dengan keluarga, menonton kontes menyanyi, atau mungkin sudah ada yang tertidur, ada sebagian orang yang sedang dalam perjalanan untuk bisa segera bertemu keluarga. Atau cintanya. Kahuripan menembus gelapnya malam menuju stasiun akhir Kiaracondong, Bandung.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Fajar Sendu Situ Cileunca

02 September 2018.

Tengah malam tepat, kereta Pasundan tiba di Stasiun Kiaracondong—Bandung, setelah menempuh perjalanan panjang, kurang lebih sembilan jam dari Lempuyangan—Yogyakarta. Aku melangkah menuju musala untuk menunaikan salat. Secara naluri, aku mengeluarkan ponsel, bermaksud menghubungi seseorang. Namun urung. Aku hanya tersenyum simpul dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. Karena kini aku tak mungkin dan tak ada guna lagi menghubunginya. Kami telah usai.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK