Menguak Sepenggal Cerita Lama di Kotabaru Yogyakarta

“Besok, kita berkumpul pukul 07.00 WIB ya, Mas. Tolong temannya diberitahu. Titik kumpulnya di Galeria Mal.”

Aku membaca sebuah pesan WhatsApp dari seseorang yang akan menjadi pemandu perjalanan kali ini dari Jogjagoodguide, komunitas Walking Tour yang membuat sebuah agenda menjelajah Kotabaru.

******

Kotabaru tentu sudah tidak asing bagi warga Yogyakarta. Pun bagi pendatang seperti aku. Ruas jalan yang lebar, mulus, dan rindang menjadi ciri yang paling gampang, karena berbeda dengan ruas wilayah Yogyakarta lainnya.

Bila ada yang menyebut Yogyakarta adalah kota yang lambat, mungkin ada benarnya. Bagaimana tidak, pada pagi itu misalnya, waktu belum menunjukkan pukul tujuh pagi, suasana jalan-jalan di sekitar kampus masih sepi. Tentu berbanding terbalik dengan Jakarta dan Surabaya yang pada waktu yang sama sudah macet.

Begitu pula jalan Laksda Adisucipto pun masih cukup lengang. Tak terlalu tampak kendaraan berlalu lalang yang membawa anak sekolah atau berangkat bekerja. Tampaknya, bisnis dan perdagangan di Yogyakarta juga baru mulai aktif pada setelah pukul delapan atau sembilan pagi. Setidaknya begitulah sampai aku dan Intan tiba di titik pertemuan awal perjalanan kami di Galeria Mal.

Galeria Mal pun masih dalam kondisi tutup. Hanya ada satpam yang berjaga di depan pintu utama mal. Aku dan Intan berkenalan dengan pemandu kami dari Jogjagoodguide. Tak lama, tampak seorang ibu dan anak yang setengah berlari menyeberang jalan menghampiri kami. Total peserta walking tour kali ini hanya ada tiga orang dewasa dan satu anak kecil: Aku, Intan, Seorang Ibu yang kuperkirakan seusia Mak Indah Julianti dan putranya yang berusia sekitar lima atau enam tahun.

Peta Nieuwe Wijk atau Kotabaru

Kotabaru atau dalam bahasa Belanda: Nieuwe Wijk, sebuah kawasan di Yogyakarta yang membentang luas dan berada di tengah-tengah Yogyakarta. Kotabaru terbentang mulai dari Galeria Mal di sebelah timur hingga sungai Code di sebelah barat. Ia dikenal sebagai kawasan dengan tata kota yang sangat berbeda dari kawasan Yogyakarta pada umumnya.

Sang pemandu mulai menceritakan asal mula Kotabaru kepada kami. Kotabaru dikisahkan berdiri setelah adanya permintaan dari warga Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Jumlah warga yang sudah sangat banyak membuat mereka bermaksud untuk mencari hunian baru. Mereka lantas meminta izin kepada penguasa pada saat itu. Oleh sang raja, mereka diberikan sebuah lahan yang cukup luas untuk membangun sendiri kota sesuai dengan keinginan mereka. Ini juga menjadi hadiah bagi warga Belanda yang membawa kemakmuran dengan pabrik gulanya.

Pintu Rumah Sakit Petronella (kini Rumah Sakit Bethesda)

Dari batas paling timur, kami berjalan menyusuri jalanan yang rindang di kawasan Kotabaru hingga bertemu dengan rumah sakit pertama di Yogyakarta: Rumah Sakit Petronella atau yang sekarang kita kenal dengan Rumah Sakit Bethesda. Rumah Sakit Bethesda semula hanyalah sebuah klinik kecil, sebuah pengembangan dari klinik kesehatan yang semula berada di kawasan Bintaran. Membludaknya pasien dan kebutuhan tempat yang cukup luas membuat dr. Jan Gerrit Scheuer membuka klinik baru di kawasan Kotabaru. Ia memberi nama Petronella Zienkenhuiss, tetapi oleh masyarakat Yogyakarta dikenal dengan nama Rumah Sakit Toeloeng.

Penamaan Rumah Sakit Petrnolla atau Rumah Sakit Toeloeng ini terus berganti seiring dengan perkembangan waktu. Ia juga sempat berganti kepemilikan hingga kemudian kembali dimiliki oleh Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) Bethesda dan menjadi Rumah Sakit Bethesda seperti yang dikenal sekarang ini. Kini Bethesda menjadi salah satu rumah sakit terlengkap yang ada di Yogyakarta. Aku sempat mengambil foto dari luar rumah sakit sebelum harus kembali ke barisan agar tak tertinggal.

Baca juga: Mengenang Siola Surabaya

Jalanan di Kotabaru didesain dengan apik, terbagi menjadi tiga: Boulevard, Laan, dan Weg. Boulevard merupakan sebuah jalan yang lebar dengan konsep taman di tengahnya. Ada tiga Boulevard di Kotabaru: Mataram Boulevard atau yang sekarang dikenal sebagai Jalan Suroto, Sultan Boulevard atau I Dewa Nyoman Oka, dan Boulevard Jonquiere dengan nama lain Kerkweg atau yang sekarang dikenal dengan Jalan Abu Bakar Ali.

Penamaan Sultan dan Mataram Boulevard sendiri sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih dari rakyat Belanda kepada pemerintah Yogyakarta atau Mataram saat itu.

Sementara Laan adalah gang-gang kecil yang menghubungkan bagian-bagian Kotabaru. Konsep Laan ini dibuat agar siapapun yang melintas di sini tidak perlu berhenti untuk menikmati keindahannya. Penamaan Laan sendiri menggunakan nama-nama gunung seperti Lawoe Laan, Merapi Laan, atau Wilis Laan dengan tujuan untuk memberikan kesan romantis.

Ir. Beekveld yang merancang dan menata Kotabaru menggunakan desain tata kota modern seperti di Inggris. Konsep tata ruang ini adalah yang termodern pada zamannya, dan dengan konsep inilah yang membuat Kotabaru seakan bukan di Yogyakarta seperti pada umumnya yang jarang pepohonan dan panas. Melintas di Kotabaru betul-betul sejuk dan dingin. Desain seperti ini sudah ada di Indonesia sebelumnya, yakni di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Desain arsitektur rumah di Kotabaru juga berbeda dengan desain rumah di kawasan lainnya, meski sama-sama dibangun oleh arsitektur asal Belanda. Pembangunan rumah di Kotabaru menyesuaikan dengan kondisi saat itu yang sudah lebih modern. Orang-orang Belanda tidak lagi menikahi wanita-wanita pribumi. Mereka lebih senang untuk membawa serta keluarganya dari negeri asalnya ke Hindia Belanda. Perkembangan teknologi transportasi dan keamanan sudah memungkinkan pada saat itu untuk membawa keluarga dalam perjalanan yang sangat jauh. Ditambah lagi, kondisi Hindia Belanda saat itu dianggap sudah kondusif sehingga sangat menjanjikan bagi warga asli Belanda untuk membawa keluarganya.

Desain Rumah yang Tergolong Baru di Eranya, Menggunakan Sentuhan Gaya Betawi

Hingga kini, desain tata ruang di Kotabaru tetap berusaha dipertahankan. Bangunan-bangunan bergaya indische tetap berdiri kokoh, tidak dihancurkan dan diganti dengan bangunan modern, dan jalan-jalannya dipercantik, dirawat dengan senantiasa dibersihkan secara berkala.

Kami akhirnya tiba di Museum Sandi yang berada di tepi Sungai Code. Kami diminta untuk masuk ke dalam Museum Sandi. Pengunjung umum juga diperbolehkan untuk datang ke museum ini dan tidak dipungut biaya. Dalam Museum Sandi, kami dikenalkan dengan sejarah persandian di Indonesia, bagaimana sandi menjadi salah satu kunci sukses sebuah negara, dan betapa beratnya tugas yang harus dipikul oleh para pembawa sandi.

Kami melanjutkan langkah menuju Masjid Syuhada yang berada di sisi sebelah barat museum. Masjid Syuhada dibangun untuk mengenang para syuhada dalam pertempuran Kotabaru. Di depannya, ada sebuah bangunan kecil, berbentuk seperti rumah, yang kini digunakan oleh sebuah majelis taklim. Bangunan ini sebelumnya pernah berganti pemilik hingga beberapa kali.

Gereja HKBP di Kotabaru

Kami beristirahat sejenak sembari menikmati semangkuk es jaipong dan beberapa buah kue leker jalanan. Tak jauh dari tempat kami beristirahat, berdiri sebuah gereja HKBP, lengkap dengan tulisan aksara Batak. Semasa penjajahan Jepang, gereja ini difungsikan sebagai penjara.

Berbicara tentang es jaipong di Kotabaru, ada dua orang penjual es jaipong yang sama-sama menggunakan gerobak berwarna biru. Dua orang penjual es jaipong ini terpisah jarak beberapa meter. Ternyata, mereka berdua ini masih saudara, dan meneruskan warisan berjualan es jaipong dari pendahulunya. Es Jaipong mereka inilah yang kali pertama ada di Yogyakarta.

Rasa dingin dan manis es jaipong sedikit menghilangkan dahaga dan memberikan tambahan tenaga pada kami. Anak kecil yang turut serta dalam perjalanan kali ini juga bersorak gembira saat kami beristirahat. Tampaknya, ia sudah kelelahan sedari tadi. Hebatnya, meski anak berusia 5-6 tahun tersebut terlihat bosan, anak tersebut tetap bersemangat untuk mengikuti perjalanan ini hingga akhir.

Aku, Intan, dan Peserta Lain serta Pemandu
Es Jaipong

Baca juga: Bakso Aneka Rasa Tuban

Semilir angin di Kotabaru begitu menyegarkan. Rimbun pepohonan membuat panas tak begitu menyengat. Dari tempat kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di sebuah gereja besar yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Yogyakarta.

Gereja St. Antonius Kotabaru, adalah gereja pertama yang dibangun di Kotabaru. Pembangunan gereja ini diperuntukkan bagi warga Belanda yang tinggal di sini agar tidak perlu jauh-jauh datang ke Gereja Kidul Loji. Sama seperti Gereja Kidul Loji, Gereja St. Antonius Kotabaru juga diperuntukkan bagi warga Belanda yang beragama Katolik. Sementara, mayoritas warga Belanda yang beragama Protestan beribadah di Gereja Ngejaman yang berada di Malioboro, tepatnya, di seberang Benteng Vredeburg.

Kotabaru juga tempat singgah untuk para diplomat, ini salah satunya
Gereja St. Antonius Kotabaru

Perjalanan kami diakhir pada salah satu lingkar Stadion Kridosono. Stadion Kridosono dulunya dibuat sebagai taman tempat masyarakat Kotabaru untuk berolahraga. Yang menarik, di sebelah selatan stadion, tepat di ujung jalan menuju Stasiun Lempuyangan, berdiri sebuah bangunan yang dulu digunakan sebagai tempat berjualan opium.

Pada masa penjajahan, opium diperjualbelikan dengan bebas karena berguna sebagai penghilang rasa sakit. Tentu saja hal ini dimanfaatkan dengan baik pula oleh para pemadat. Penjualan opium dulunya dimonopoli oleh kaum Tionghoa dengan menggunakan sistem yang sangat unik. Mereka melakukan lelang untuk menentukan siapa yang diperbolehkan berjualan opium. Pemenang lelang tersebut, berhak untuk memonopoli perdagangan candu dengan menetapkan harga sesuai keinginannya. Tempat melakukan lelang inilah yang berada di Kotabaru tersebut.

Sejatinya, Kotabaru jauh lebih luas dan lebih dalam dari apa yang sudah diceritakan pemandu dari Jogjagoodguide kepada kami. Hanya saja durasi waktu yang membatasi perjalanan kami. Padahal beberapa cerita tentang perjuangan selama pertempuran Kotabaru, SMA 3 Yogyakarta, dan bangunan-bangunan lain belum semuanya diceritakan.

Rasanya menyenangkan, menyelami kembali cerita-cerita lama. Cerita-cerita lama yang tak pernah terulang. Cerita-cerita lama yang tak lagi baru, di Kotabaru.

Author: Gallant Tsany Abdillah

Suka jalan-jalan dan menggalau tentang apapun. Pengen punya kamera (dan pacar) sendiri. Kerjasama dapat menghubungi ke alamat email: gallanttsany@gmail.com

36 thoughts on “Menguak Sepenggal Cerita Lama di Kotabaru Yogyakarta”

  1. Aku pernah coba jalan kaki di Kotabaru mas, dan beneran nggak kerasa capeknya. Pemandangan rumah-rumah tuanya itu bikin kaki tambah lambat jalan.
    Sayangnya aku belum sempat mendokumentasikan,Mau motret terkadang nggak enak soalnya rumah-rumah itu berpenghuni.
    Eh, yang ikutan walkingtour minimalis banget personilnya yak? malah enak. Foto-fotonya sukaa mas.

    1. haahah iya mbak. enak banget. berasa banget bedanya sama jogja yg lain yg gersang kan ya.
      ternyata setelah ikut walking tour ada rahasianya.

      kabarnya bisa sampe 20 orang, mbak. itu kebetulan weekdays jadi nggak banyak. πŸ˜€

  2. Ada banyak bagian kota independen begini di hampir semua kota di Jawa, terutama yang ada bekas pabrik gulanya. Kayaknya di Solo juga ada. Bahkan, kawasan kecil seperti Nganjuk, Kediri, dan Jombang pun ada kompleks rumah-rumah mungil bergaya arsitektur khas Eropa dengan halaman luas dan jendela besar begini. Itu mungkin juga jadi bagian dari keberadaan pabrik gula di kota tersebut.

    1. ahhh.. ini masuk akal. bahkan di Sumenep juga ada kawasan kota tua, karena dulu ada pabrik garam (kalo gak salah).
      menarik sebenernya kalo ada banyak pemukiman independen begini. berasa kayak bukan di situ. πŸ˜€

      1. Hehehe aku belum pernah main ke Sumenep. Harus nyeberang pulau soalnya πŸ˜…

        Kompleks perumahan begini paling banyak dan masih terawat hingga saat ini yang aku tahu ada di Bandung. Banyak rumah-rumah lawas. Biasanya udah berubah jadi kafe, fo, atau hostel. Kadang pas makan atau belanja gitu baru nyadar fasad bangunannya setelah keluar, bawa tentengan, dan foto-foto di halamannya. Khas banget netijen πŸ˜…πŸ™ˆ

  3. Beberapa kali ke Jogja dan setiap kali ke sana selalu berencana menyambangi area Kotabaru ini buat ngerasain jalan di lorong-lorong sempit sambil menikmati bangunan-bangunan tuanya. Tapi, setiap kali juga rencana itu gagal, sampai sekarang belum kesampaian Semoga pas bisa jalan-jalan ke sana masih ada yang jual es jaipongnya :))

    Btw kawasan Kotabaru ini udah seluruh kawasannya dijadiin cagar budaya, atau cagar budayanya parsial per bangunan gitu mas?

    1. ahh iyaa. es jaipongnya itu ada dua, aku pas ke sana itu pas sama si “adik”. karena yg “kakak”nya lagi nggak jual.
      ceritanya, “kakak”nya ini lebih dulu jualan daripada “adik”nya.

      kalo Kotabaru, awalnya hanya parsial per bangunan yang jadi cagar budaya. tapi terakhir aku denger, kabarnya akan dibikin kawasan cagar budaya keseluruhan untuk mendongkrak wisata di sana.

      https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2019/12/02/510/1026154/cagar-budaya-di-kotabaru-berpotensi-jadi-kawasan-wisata

  4. Aku tahunya Kotabaru ya Raminten House hehehe, nggak menyangka ada sejarah yang menarik. Pernah masuk ke Museum Sandi sih dulu. Kayaknya seru nanti ke Jogja ikutan Jogja Good Guide deh.

  5. Aku bahkan lupa pernah ke sini apa engga πŸ˜‚ padahal udah ke jogja berkali2 tali gak hafal juga. Ke jogja ingetnya cuma jalan ke malioboro ehehe

  6. Wha saya beberapa kali ke Jogja tapi baru tau ada yang namanya Kotabaru. Unik banget malah bangunan khas Betawi di Jogjaa:)

    1. bagi orang luar jogja mungkin nggak terlalu paham dengan kotabaru, kak. hehe.

      betul. bangunan khas betawi itu, menurut cerita, muncul karena penguninya pindahan dari jakarta. hehe. makanya desain rumahnya ditambahkan desain betawi.

  7. Walking tour dengan jumalh peserta itu berasa sedang private walking tour. Berasa eksklusif mas πŸ˜€

    Kalau baca cerita tentang kotabaru, jadi ingat kawasan candi baru semarang. Kawasan ini dulu digunakan untuk tinggal orang-orang belanda. Banyak bangunan indische yang masih berdiri sampai sekarang. Bahkan salah satu bangunannya malah jadi rumah dinas gubernur jateng.

    Kalau suasana kotabaru begitu adem, rasanya aku bakal betah jalan kaki di sana dan mendengarkan cerita tentang kotabaru.

    Salam walking tour mas πŸ˜€

    1. wahhh iya ya? sebenernya ini pertama ikut walking tour sih hehe. sebelumnya sudah pernah, malah sendirian hahahaha.

      ooo malah bukan kawasan kota lama ya? hmm belum pernah ke candi baru nih aku hehe

      1. sering-sering ikut walking tour mas πŸ˜€
        kota lama itu area perkantoran dan gedung pemerintahan. Sedangkan tempat tinggalnya di daerah Candi Baru.
        candi Baru didesain oleh thomas karsten. Arsitek yang desain pasar johar. Di sekitar candi baru juga terdapat sebuah rumah sakit yang juga didesain oleh thomas karsten

        ayo main ke semarang mas πŸ˜€

  8. Halooo mas Gallant. Lama ga main ke blogmu, ternyata sudah ganti ya hehe.

    Foto fotomh baguuss bgt mas. Beberapa waktu yang lalu aku jg sempet jalan jalan di area kota baru sama Febri, tapi mgkn ga ke area yang ada dipostingan ini deh.

    1. halo, mbak nadya. welcome back. terima kasih sudah mampir kembali.

      iya nih, ganti domain. hehehe.

      wah terima kasih. sebenernya ini foto asal-asalan aja soalnya cepet banget huhu.
      waktu itu main ke area mana, mbak? πŸ˜€

          1. Ah I see. Aku ga lewat situ soalnya.. ternyata daerah Kotabaru emg sebagus itu yaaaaa huhuhu

            Betuulsss sambil motret-motret πŸ˜…πŸ˜…

  9. Aku tuh pengen ikutan walking tour gini tapi belum pernah kesampaian. Betewe Kota Baru dan Bintaran itu salah satu wilayah Jogja yang aku seneng banget. Soalnya banyak bangunan Belanda dan aku suka banget dengan rumah-rumah arsitektur Belanda gitu. Aku belum pernah jalan keliling Kotabaru full sih. Tapi kalau petanya pernah lihat di Museum Sandi. Ternyata dulu Kotabaru kawasan elite.

    1. betul, mbak, aku dulu juga terkagum-kagum sama kotabaru karena desain tata kotanya kayak beda banget. ternyata setelah ikutan ini jadi paham kalo emang dari dulu kotabaru itu kawasan elit.
      peta kotabaru itu emang aku foto di museum sandi sih, mbak. hahaha.
      kalo bintaran, aku malah belum tau. belum ngeh juga di sana ada bangunan belanda gitu. wkwk. cuma kabarnya gereja katolik pertama ya di bintaran. kalo di malioboro itu protestan. ya nggak?

      1. Iya, di Bintaran ada gereja katolik pertama. terus dekat sana kan juga kompleksnya taman siswa toh. kalau yang di malioboro itu GBIP, gereja protestan. Semua gereja peninggalan belanda setauku jadi di bawah sinode GPIB. Kayak gereja blenduk Semarang, terus gereja yang di Jalan Merdeka Barat Jakarta, GPIB Imanuel.

Komen aja dulu, nanti dikomen balik