Menganti dan Sawangan yang Bercerita – Sebuah Surat Cinta dari Jawa Tengah

“Kamu masih ingat kapan dan bagaimana kita bisa bertemu kali pertama?” Tanyamu saat itu.

“Kamu tahu sendiri aku bukanlah orang yang pandai dalam hal ingatan,” kataku.

“Ceritakan saja padaku, hal yang kau ingat saat kita bertemu.” Kau menyandarkan kepalamu di bahuku.

Baiklah. Akan kuceritakan semampuku.

******

Pantai Menganti

Kita berjalan bersama menyusuri jalan setapak di Pantai Menganti, Kebumen, Jawa Tengah. Waktu sudah cukup sore hari itu. Sayang cuaca kurang bersahabat. Mendung.

Kau berjalan di depan bersama beberapa orang teman. Perempuan kebanyakan. Aku tak terlalu memerhatikanmu. Aku masih asyik sendiri, berjalan, paling belakang tapi berusaha menjaga jarak agar tak tertinggal. Sementara kau dengan santai bercengkrama. Seskali aku melihat punggungmu yang tertutup oleh jaket kecoklatan itu.

Awan-awan masih saja tak mau memberikan izin kepada matahari untuk menerangi. Atau matahari yang justru senang bersembunyi?

Tak terlalu jauh jalan setapak yang dilalui. Hanya kurang lebih 500 meter dari tempat parkir. Sesekali kau tersenyum, bahkan tertawa kecil saat sedang bercanda dengan mereka. Entah apa yang kalian bicarakan. Aku pun tak cukup peduli. Sibuk dengan kamera dan tripod yang kupegang. Sesekali pula aku mendengar suara tawamu yang renyah.

Pantai Menganti -2

Aku berjalan menaiki Lembah Menguneng Pantai Menganti. Di sana aku bisa melihat dengan jelas pantai tetangga yang tak kutahu namanya. Ada pula sebuah pulau kecil atau lebih mudah dikatakan sebagai bongkahan batu besar di pantai. Batuan di pantai juga terlihat rapi. Kabarnya, batu tersebut berasal dari letusan gunung di tengah laut pada masa lampau. Lontaran batu tersebut mencapai bibir pantai, mendingin, mengeras, dan menutup beberapa bagian pantai. Membentuk bongkahan-bongkahan batu berwarna hitam.

Aku tak melihatmu. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri tak jua menemukanmu. Entah. Mungkin kau sedang bercengkrama dengan yang lain. Aku tak peduli.

“Tapi saat itu jelas kamu mencariku kan?” Tanyamu. Aku tak menjawab. Hanya tersenyum. Mengambil air dari tas, meneguknya, dan meneruskan ceritaku.

Aku duduk, menikmati semilir angin pantai. Beberapa teman lain masih disibukkan oleh kamera masing-masing. Mencari sudut-sudut untuk dieksplorasi menjadi foto yang bagus. Terdengar suara shutter kamera beberapa kali.

Memancing

“Aku suka sekali datang ke Pantai. Hamparan luas tanpa sudut-sudut mati. Tak seperti di gunung,” katamu yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Kita berkenalan tanpa jabat tangan.

“Kenapa nggak ikut motret seperti yang lain?”

“Nggak apa-apa, aku ingin merasakan wajahku ditampar oleh angin laut.”

“Kamu suka datang ke pantai? Aku suka datang ke pantai. Aku bosan melihat gunung,” ucapmu sambil tertawa kecil. Aku terdiam.

“Aku mau menunjukkan kamu sesuatu,” ajakmu. Aku terpaksa bangun dari posisiku dan mengikutimu.

“Di pantai ini ada jembatan merahnya,” katamu saat kita berdua berada di jembatan merah, “dan aku suka warna merah

Foto aku, dong.” Tanpa aba-aba kau langsung menuju salah satu sisi jembatan. Memasang gaya. Dan entah kenapa aku seperti menurut. Mengarahkan lensa kameraku. Jepret! Aku mengambil beberapa foto dirimu.

“Coba aku lihat,” katamu. Aku menyerahkan kameraku. “Hmm.. Foto-fotomu bagus. Memang beda kalau yang motret seorang fotografer ya.” Kau tertawa. Aku merasa itu sebuah sindiran. Aku tahu aku tak sepandai itu dalam memotret. Aku kesal. Tapi tak bisa apa-apa. Mungkin aku mulai suka caramu tertawa.

“Aku tahu kamu tadi mencariku kan?”

“Ah, enggak juga. Bagaimana kamu tahu?

“Aku sudah lama memerhatikanmu. Sejak kemarin dari Semarang,” jawabmu. “Kamu tak seperti yang lain. Kamu diam.”

“Aku cuma tak suka berbicara yang tak perlu. Seperti para politikus berkampanye.”

Kita masih saja berada di Jembatan Merah. Menuju ke ujung sana. Deburan ombak pecah oleh batu-batuan di sana. Di ujung lain tampak muda-mudi mengabadikan kemesraan mereka di area swafoto yang disediakan pengelola. Dari matamu, aku melihat kalau kau iri dengan mereka.

Pantai Menganti -3

“Mereka mesra sekali. Aku tak bisa begitu dengan pacarku.” ucapmu saat kita berjalan menyusuri jembatan. “Pasti mereka saling menyayangi.”

“Memangnya kalian tidak?” aku bertanya. Kau menggelengkan kepala. Kau bilang kau tidak mencintainya.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku tak punya pacar,” jawabku sembari kita berjalan menjauh dari jembatan merah. Pemandu sudah berteriak, memanggil, menyuruh kita menuju titik melihat matahari terbenam di Bukit Sawangan. Tak jauh dari Pantai Menganti.

“Pantai Menganti ini dulunya sebuah tempat pelelangan ikan. Kamu bisa lihat banyak perahu bersandar. Tengoklah ke sana ada seorang bapak yang sedang memancing. Saat musim tertentu, pantai ini ramai oleh pemancing.” ujarmu di sela perjalanan.

“Pantai ini suatu saat nanti akan menjadi ramai. Penuh dengan manusia, dan sampah. Aku tak suka,” lanjutmu

“Tapi itu baik untuk perekonomian warga kan?”

“Asal dikelola dengan baik.”

***

Langit Biru Pantai Menganti

Perjalanan ke Bukit Sawangan harus ditempuh dengan kendaraan lokal berupa mobil bak terbuka dengan kursi-kursi yang telah dipasang. Aku memakaikan jaketku kepadamu. Melindungi wajahmu dari terpaan angin dan kilau cahaya matahari yang masih cukup terik. Terima kasih, ucapmu.

Tak butuh waktu lama. Sekira lima menit waktu ditempuh menuju Bukit Sawangan dari Pantai Menganti. Roda-roda mobil melaju di jalanan berbatu. Kita berdua berguncang ke kanan dan ke kiri. Pun dengan penumpang lain.

Langit sore itu memang tak bersahabat. Matahari masih saja enggan muncul dari balik awan. Aku mengikuti pemandu menuju bukit. Berbeda dari di Pantai Menganti, kali ini kau berada di sampingku. Sesekali berpegangan pada lenganku saat kau hendak terjatuh karena licin. Beberapa anak tangga harus ditempuh. Kita berjalan bergantian. Kau kini di depanku.

Di Bukit Sawangan kau tiba-tiba menuju ke salah satu sisi. Berpose dengan gaya yang cukup centil. Dan tanpa berbicara sepatah katapun aku langsung menekan tombol shutter kamera. Entah kenapa aku seperti bergerak seakan telah mengerti maksudmu.

“Kenapa kamu selalu mencuri-curi pandang kepadaku?” katamu sambil berjalan menghampiriku. “Aku tahu kok.”

“Hmm…”

“Kamu suka aku?”

“Ya.. Mungkin.”

“Kenapa?”

“Karena kau cantik, mungkin.”

“Basi.”

“Karena kau cantik, itu benar. Sejatinya rasa suka tak butuh ‘karena’ dan ‘untuk apa’.”

“Kamu dingin, seperti es krim. Aku suka es krim. Dingin tapi lembut,” katamu, “Seandainya kita bertemu lebih dulu. Mungkin aku akan menolak lelaki itu.”

Aku menuju ke atas bukit. Masih mencoba mengais sisa semburat senja yang tak muncul. Tampak dari atas sebuah papan yang telah disediakan pengelola, dibentuk sedemikian rupa, membentuk tulisan ‘I ♥ U’.

Senja dan Mendung Pantai Menganti

Kita tak mungkin untuk turun ke bawah. Tak ada pantai seperti yang kau suka di sana. Hanya ada tebing-tebing curam. Di sisi ujung lain bukit ada semacam gardu pandang. Kita berdua duduk di atas rumput. Memandang ke tengah laut. Melihat kerlip lampu mercusuar nun jauh di sana.

“Aku tak benar-benar mencintai pacarku. Kami hanya dikenalkan oleh kedua orang tua kami. Selama ini pun kami jarang bertemu. Sekadar bersapa melalui kanal telpon atau pesan pun hampir tak pernah. Aku tak mengerti apakah dia benar-benar mencintaiku atau tidak. Aku hanya tak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku.” Kau berucap, memperlihatkan kerapuhanmu. Aku hanya duduk, memasukkan kamera ke dalam tas.

“Beberapa orang mengenalku sebagai gadis desa, beberapa yang lain mengenalku sebagai seorang bekas mahasiswi, sementara ada juga yang mengenalku sebagai apa yang mereka sebut sebagai Travel Blogger. Semua melihatku utuh meski aku sebenarnya rapuh,” ucapmu lirih. “Tapi bersamamu, walau baru sebentar, aku sudah merasa utuh.”

Aku masih saja memandang jauh ke tengah laut. Awan mendung semakin mendekat.

“Hujan akan segera datang. Sebaiknya kita turun.” Aku pun berdiri.

Dan kita berdua berjalan meninggalkan Bukit Sawangan. Beriringan tanpa bergandeng tangan

Pantai Menganti -4

***

Denta suara Gambang Semarang telah berkumandang di Stasiun.

“Terima kasih. Rupanya kamu masih ingat. Sekarang aku harus pergi. Jangan lupa datang minggu depan, ya.” Kau tersenyum lebar sembari memberikan secarik kertas bertuliskan Undangan Pernikahan berisi namamu dan pria itu.

Author: Gallant Tsany Abdillah

Suka jalan-jalan dan menggalau tentang apapun. Pengen punya kamera (dan pacar) sendiri. Kerjasama dapat menghubungi ke alamat email: gallanttsany@gmail.com

8 thoughts on “Menganti dan Sawangan yang Bercerita – Sebuah Surat Cinta dari Jawa Tengah”

  1. Plot twist banget tulisannya, Mas! 😀

    Baca ceritanya jadi kangen ke Menganti lagi. Rasanya udah lama banget sejak terakhir ke sana. Dulu ke sana motoran, cukup menantang juga dengan kondisi jalanan yang ekstrim banget naik turunnya.

    Pantainya sendiri memang jualan landscape yang cantik banget ya. Tebing yang langsung ketemu laut, terus ada air terjun kecil juga di sisi tebingnya. Bagus euy. Cocok banget buat latar belakang tulisan roman seperti ini.:)

    1. sebenernya ya nggak plot twist plot twist amat soalnya dari awal harusnya udah ditebak. apalagi nama blognya galautraveler. hahaha

      iyaa asik banget Menganti. aku juga jadi pengen ke sini lagi. mau napak tilas ceritanya haha

Komen aja dulu, nanti dikomen balik