Dua Hari Menjelajah Jember Bersama Putri – Hari Pertama

Pukul delapan lewat sepuluh menit, kereta berjalan dengan kecepatan sedang, menyusuri rel panjang seakan tak berujung. Perjalanan selama tidak kurang dari dua belas jam sudah akan tiba pada tujuan: Jember.

Sebuah pesan masuk dari seseorang yang sudah kutunggu, Putri Rahmawati atau biasa aku panggil dengan Putri, meminta maaf karena terlambat membalas sebab ia baru saja terbangun dari tidurnya. Putri memintaku untuk menunggu di sebuah masjid, di dekat stasiun, setibanya aku sampai di sana nantinya.

******

Jember tidak bisa dibilang sebagai kota kecil. Ia dulunya pernah menyandang sebagai salah satu kota administratif, setara dengan Batu di Malang Raya, sebelum kemudian aturan tersebut ditiadakan. Kini, Jember hanya menjadi sebuah kabupaten biasa yang sangat luas.

Aku tiba di stasiun Jember sekitar pukul 08.35 menit, cuaca sedang cukup cerah. Keluar dari kereta yang ber-AC membuatku merasa sedikit sumuk ketika berjalan menuju masjid sesuai dengan perjanjianku dengan Putri tadi. Putri tiba dengan motor honda beat berwarna putih dengan plat S miliknya.

“Mau ke mana, Mas?” Putri bertanya yang langsung saja aku jawab mencari sarapan. Perjalanan dari Yogyakarta ke Jember yang menempuh waktu tak kurang dari dua belas jam membuatku lapar.

“Pecel Lumintu ya, Put.” Ajakku yang disambut dengan anggukan kepala oleh Putri. Aku segera naik ke atas motornya menuju salah satu tempat makan legendaris di kota Jember. Perjalananku mengunjungi Jember selama dua hari bersama Putri dimulai.

Hari Pertama: Pecel Gudeg Lumintu – Es Krim Domino – Puslitkoka – Tanjung Papuma

Jauh sebelum ini, aku memang sudah memasukkan Jember sebagai salah satu kota yang ingin aku kunjungi. Rasa penasaran mengingat Jember pernah dianggap sebagai kota terbesar di wilayah tapal kuda provinsi Jawa Timur ini cukup tinggi. Sepertinya, Jember bukanlah sebuah kota yang biasa saja.

Keinginanku terwujud setelah aku menghubungi Putri, gadis yang kini sedang kubonceng. Sebagai Virgo yang selalu teratur dengan setiap rencana, bahkan setiap rencana harus ada rencana cadangan yang memiliki rencana cadangan, ia sempat menanyaiku rencana ke Jember. Aku memberikan daftar berisi tempat-tempat yang ingin kukunjungi dan mendapat persetujuan darinya.

Tempat pertama itu adalah Pecel Gudeg Lumintu.

Pecel Gudeg Lumintu

Pecel Gudeg Lumintu menjadi salah satu tempat kuliner legendaris yang ada di kota Jember. Tercatat, Pecel Gudeg Lumintu ini sudah berjualan di Jember sejak tahun 1975 yang diawali oleh sepasang suami istri perantauan. Sang suami yang berasal dari Wonogiri dulunya bekerja sebagai seorang tentara, setelah dipindah ke Jember mulai mengembangkan sayapnya berjualan nasi pecel yang dipadukan dengan gudeg.

Sepiring Pecel Gudeg

Bila umumnya gudeg dikenal dengan rasanya yang manis, di Pecel Gudeg Lumintu rasa gudeg yang disajikan lebih gurih. Rasa gurih ini bisa bekerja sama secara sempurna dengan rasa sambal pecel yang gurih dan pedas.

Dalam sepiring nasi pecel gudeg terdiri dari sepiring nasi, dengan lauk, sambal pecel, gudeg nangka, beberapa sayuran hijau, dan tentu saja peyek sebagai pelengkap. Tersedia berbagai macam lauk mulai dari telur hingga ayam yang akan menentukan perbedaan harga dalam sepiring nasi pecel gudeg.

Menikmati Sepiring Pecel Gudeg

“Sekarang, bapak dan ibu sudah nggak berjualan lagi, Mas. Sudah sepuh. Sekarang ganti anak-anaknya yang mengurusi.” Ujar seorang pria paruh baya sekaligus putra yang bertugas meneruskan usaha Pecel Gudeg Lumintu.

Pecel Gudeg Lumintu tidak terlalu ramai saat itu, menurut Putri -yang diaminkan oleh sang bapak, antrean di sini bisa mengular. Aku dan Putri sama-sama memesan nasi pecel gudeg dengan teh hangat. Sambil menunggu makanan disiapkan, aku sempat berkeliling melihat foto-foto lawas menggambarkan kota Jember.

Bahan-Bahan

Kami tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabis sepiring nasi pecel gudeg yang tersaji. Porsinya tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit, pas. Namun karena banyaknya kondimen tersebut, membuat perut rasanya langsung penuh. Kamipun beranjak menuju tempat kedua: Es Krim Domino

Aneka Lauk

Pecel Gudeg Lumintu

Alamat: Jl. Kertanegara No.33, RT.03/RW.07, Kelurahan Jember Kidul, Jember Kidul, Kec. Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur 68131

Buka mulai pukul 06.00 hingga habis

Harga: Mulai Rp 10.000,00

******

Es Krim Domino

Perjalanan menuju Es Krim Domino ternyata tidak cukup lancar. Meski aku sedang bersama seseorang yang sudah tinggal cukup lama di Jember, ternyata mencari Es Krim Domino yang legendaris juga tidak semudah yang dibayangkan. Kami sempat berhenti di tepi jalan setelah memutari Jalan Trunojoyo – Jalan Sultan Agung – Jalan Ahmad Yani hingga dua kali, tetapi belum juga menemukan tempat yang dimaksud sesuai dengan petunjuk.

Kami berhenti dan memastikan lagi, mencari artikel pendukung yang lebih kuat lagi tentang lokasi Es Krim Domino. Ada yang menyebutkan Es Krim Domino berada di Jalan Trunojoyo, tetapi sumber lebih kuat mengatakan Es Krim Domino kini pindah di Jalan Sultan Agung, tidak jauh dari alun-alun Jember.

Es Krim Domino sejak 1960

Tempatnya kecil untuk ukuran es krim legendaris yang sudah lebih dari 50 tahun berdiri. Aku mengira karena saat itu bukan waktu liburan menjadi alasan mengapa tempat ini sepi. Tidak ada motor atau mobil yang terparkir berjajar di sekitar toko yang berada di Jalan Sultan Agung ini. Kamu bahkan harus mengurangi kecepatan, memacu motor dengan perlahan, agar tidak terlewat ketika mencari tempat legendaris ini.

Dalam ruangan toko hanya ada deretan kursi-kursi dan meja yang tertata rapi dan satu orang karyawan yang sedang asyik menonton televisi dari balik meja. Meja dan kursi diatur dengan formasi dua kursi dan dua meja yang dijadikan satu. Diatur untuk kedatangan minimal empat orang. Tidak ada pasangan kursi-meja yang pas untuk berduaan. Beruntung, tidak ada pelanggan lain yang memasuki toko selain kami.

Kami langsung memesan tiga jenis es krim: satu scoop es krim coklat, es krim durian, dan rainbow ice cream. Proses penyajiannya cepat membuat kami tidak perlu lama menunggu. Porsinya tidak besar, cukup sebagai makanan penutup. Tersaji dalam tiga piring berbeda untuk masing-masing menu yang kami pesan.

Tiga Jenis Es Krim

Satu persatu kami menyuap masuk es krim yang tersaji. Rasanya lembut dan manis. Es krim durian yang kupesan memiliki aroma dan rasa yang cukup kuat. Sementara es krim coklat yang dimakan Putri terasa agak pahit, khas rasa coklat asli. Lain halnya dengan es krim rainbow yang menggunakan campuran berbagai macam rasa seperti vanilla, coklat, dan strawberry. Masing-masing rasanya tidak saling tumpang tindih. Sama-sama kuat, tanpa memusnahkan rasa lainnya.

Konon, Es Krim Domino masih mempertahankan resep asli meski saat ini sudah memasuki generasi ketiga. Sayangnya, kakek yang biasanya turut menjaga toko saat itu sedang tidak di tempat, aku tidak bisa bertanya-tanya lebih lanjut tentang rahasia kelembutan setiap sendok es krimnya. Menurut berbagai website, rahasia kelembutannya berasal dari susu dan buah asli, bukan perasa buah semata. Es Krim Domino juga menjual susu dalam bungkus-bungkus plastik.

Es Krim Domino

Alamat: Jl. Sultan Agung No.43, Tembaan, Kepatihan, Kec. Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur 68131

Buka mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB

Harga: Mulai Rp 7.000,00

******

Puslit Kopi dan Kakao

Semula aku melihat tentang tempat ini dari postingan blog milik Mas Alan. Selanjutnya, aku langsung menghubungi Putri dan mendiskusikan tempat ini cocok dikunjungi atau tidak. Putri yang sudah pernah mengunjungi tempat ini beberapa tahun lalu kurang merekomendasikan. Namun, kali ini aku tetap ngotot untuk ke sini.

Menuju ke Puslitkoka sama saja mengarahkan motor menuju Pantai Tanjung Papuma karena memang satu arah. Siang itu, jalanan tidak terlalu ramai, atau mungkin memang seperti itu keadaannya. Aku melajukan motor dengan kecepatan sedang. Kami sempat mampir di sebuah masjid di pinggir jalan untuk salat zuhur. Karena tentu lebih aman untuk salat di masjid di pinggir jalan daripada di tengah jalan yang penuh lalu lalang kendaraan.

Memasuki kawasan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao tidak membuat udara menjadi lebih dingin. Nyatanya, cuaca terik di Jember masih sangat terasa, meski sudah memasuki kawasan hutan. Di kanan kiri terdapat pepohonan, sesekali aku menyeletuk kepada Putri, “Kayaknya itu pohon Coklat, ya, Put?” atau “Kalau itu pohon Kopi ya?” Meski tanggapan Putri tidak lebih dari iya dan mungkin.

Kereta Puslitkoka

Kami hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000,00 untuk masing-masing orang, ditambah parkir motor sebesar Rp 2.000,00. Namun, tujuanku ke sana tidak cukup untuk melihat-lihat. Karena yang menjadi tujuan utamaku adalah naik kereta odong-odong yang mengelilingi kawasan pusat penelitian ini. Tarifnya murah saja, Rp 10.000,00 per kepala.

Kami tiba pada pemberhentian pertama, seperti yang dijanjikan oleh sang pengemudi. Kami dipersilakan untuk berjalan-jalan di sekitar, berfoto di hutan pohon Kakao. Ada sebuah kolam renang berukuran kecil dengan ember besar yang mengguyur air beberapa menit sekali. Ada juga penangkaran rusa-rusa yang dibatasi oleh pagar besi. Pakan rusa sudah disediakan secara gratis, pengunjung tinggal mengambil lalu menyodorkannya pada pagar pembatas. Rusa-rusa tersebut akan berebutan untuk memakan pakan yang disodorkan. Putri tentu saja sangat antusias dan langsung mengambil beberapa ikat dedaunan untuk diberikan kepada rusa-rusa.

Memberi Makan Rusa

Kami melanjutkan perjalanan setelah tiga puluh menit di sini. Tujuan kami selanjutnya adalah pabrik pengolahan kopi dan kakao sekaligus menjadi titik terakhir. Kami langsung diarahkan untuk melihat bagaimana biji kakao diproses, mulai dari pemilahan, penjemuran, hingga pengolahan. Khusus untuk bagian pengolahan, kami hanya diperlihatkan dari luar sebuah ruang produksi dengan jalur khusus wisata yang sudah dirancang oleh Puslitkoka.

Buah Kakao
Mengolah Biji Kopi

Terakhir, kami menuju ke kantin khusus yang menjual berbagai produk dari Puslitkoka. Sembari menunggu waktu asar tiba, aku melihat-lihat produk olahan Puslitkoka yang sudah dikemas dengan rapi. Sementara Putri langsung menuju ke kasir untuk memesan dua gelas plastik es coklat berukuran kecil. Konon, es coklat inilah yang paling diburu karena otentik dengan bahan coklat asli Puslitkoka.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao – Puslitkoka

Alamat: Gebang, Nogosari, Kec. Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur 68175

Buka mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB

Harga tiket masuk Rp 5.000,00, parkir Rp 2.000,00, kereta keliling kebun Rp 10.000,00 per orang

******

Pantai Tanjung Papuma

Putri langsung memilih Pantai Tanjung Papuma ketika aku memberikannya pilihan tempat melihat sunset yang cantik antara Pantai Tanjung Papuma dan Pantai Payangan. Kedua pantai tersebut baru aku ketahui sebatas informasi dari internet semata.

Menjelang pukul tiga lewat tiga puluh menit, kami beranjak dari Puslitkoka dan mengarah ke selatan, menuju Pantai Tanjung Papuma. Dibanding dengan Papuma, aku sebetulnya lebih mengenal Pantai Watu Ulo melalui sebuah peta wisata yang ditunjukkan ayahku semasa aku kecil dulu. Pantai Tanjung Papuma, masih aku anggap sebagai pantai yang baru lahir.

Tidak terlalu rumit untuk menuju ke Pantai Tanjung Papuma karena sudah ada banyak rambu jalan yang memberi petunjuk. Jalanan bergelombang dan berlubang yang sepi, sawah dan hutan di kanan dan kiri, dan jalanan yang berliku begitu kami berbelok dari jalan kabupaten hingga kami tiba di loket masuk pantai.

Menikmati Sore di Pantai Papuma

Setelah kami membayar tarif masuk sebesar Rp 30.000,00 per orang, kami masih harus menempuh sekitar satu atau dua kilometer untuk mencapai bibir pantai. Jalanan berubah menjadi naik turun, meski masih dalam kondisi minim penerangan. Cuaca yang berubah menjadi mendung cukup membuat kondisi jalan cukup gelap. Padahal waktu belum melewati pukul lima sore.

Pantai Tanjung Papuma setidaknya memiliki beberapa bibir pantai. Bibir pantai paling awal berisikan perahu-perahu nelayan yang tengah sandar. Putri bertutur bahwa pemandangan pagi di sini jauh lebih menarik. Selain karena bibir pantai yang menghadap ke timur, riuh nelayan yang pulang dari melaut memberikan suasana yang unik, meski untuk melihatnya harus menginap semalam di sini. Pantai kedua lebih banyak aktivitas orang-orang yang datang bermain, layaknya pantai pada umumnya. Di sini tidak ada lahan parkir resmi, sehingga kendaraan pengunjung bebas untuk diparkir di mana saja, asal tidak di tengah jalan.

Kami memilih untuk menuju pantai paling ujung, yang lebih sepi agar bisa menikmati suasana pantai tanpa riuh manusia. Selain pantai pertama, kedua pantai setelahnya sudah dihiasi dengan beberapa fasilitas pendukung foto seperti ayunan dan titik swafoto lainnya. Fasilitas tersebut ada yang berbayar, ada yang tidak.

Sore yang Mendung

Datang ke pantai dengan sepatu ternyata bukan ide yang bagus. Aku langsung melepas sepatu dan lebih memilih untuk berjalan tanpa alas kaki. Putri langsung duduk di bibir pantai, sementara aku ke sana ke mari untuk berfoto. Cuaca sedikit mendung cukup membuyarkan ekspektasiku tentang momen ketika matahari mulai terbenam dengan jelas.

Sebelum Gelap

Pasir putih Pantai Tanjung Papuma begitu lembut. Ombak-ombak samudera yang kuat tertahan oleh karang-karang, hingga hanya sisa-sisanya saja yang mencapai bibir pantai. Langit semakin gelap, waktu sudah menandakan masuk waktu magrib. Aku dan Putri segera meninggalkan pantai dan mengakhiri perjalanan menjelajah Jember hari ini sebelum gelap benar-benar menyergap.

Pantai Tanjung Papuma

Alamat: Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember

Buka 24 jam

Harga tiket masuk Rp 30.000,00 per orang

Author: Gallant Tsany Abdillah

Suka jalan-jalan dan menggalau tentang apapun. Pengen punya kamera (dan pacar) sendiri. Kerjasama dapat menghubungi ke alamat email: gallanttsany@gmail.com

38 thoughts on “Dua Hari Menjelajah Jember Bersama Putri – Hari Pertama”

  1. Sepertinya aku pernah makan di Pecel Lumintu, samar-samar ingat. Pecel emang menu wajib orang Jawa Timur. Eh aku sendiri belum pernah makan pecel di dataran Jawa Tengah dan Jogja. Apakah rasanya sama? Ato manis hahaha.

    Aku suka es krim, klo disuruh coba es krim jadul ya pasti nyobain. Tapi gak bakalan balik lagi sih. Entah kenapa lidahku gak cocok sama es krim jadul yang kasar. Aku kan anak kekinian yg lidahnya minimal gelato lembut itu ahha. Mahal gak sih Domino? Biasanya es krim jadul mahal kek di Surabaya, Malang, Jakarta, dan Solo.

    Empat kali ke Jember belum pernah sekalipun masuk ke Pabrik Coklat itu huvt. Tapi udah pernah beli dan makan sih di tempat oleh-oleh.

    Papuma tetep menu wajib kalau ke Jember.

    1. hahaha nek aku pernah makan pecel ndek jogja sing bukan jatim style sih emang beda rasane timbang pecel jawa timur wkwk

      domino murah mas, cuma 7k tok sak scoop e. mungkin kalah pamor nek dibanding zangrandi.

      papuma wajib joss

  2. Aku belum pernah ke Papuma, tapi sepertinya pernah (lewat) ke Jember. Pas mau naik gunung Ijen. Pecel gudeg Lumintu-nya kelihatannya enak. Di Jogja juga belum ada ya yang kayak gitu. Maksudnya kalau di Jogja kan pecel ya pecel, gudeg ya gudeg. Gak dicampur gitu.

    1. jember mungkin kurang sepopuler banyuwangi kalo soal wisata. tapi jember lebih sebagai “pusat pemerintahan” bagi daerah tapal kuda dulunya.
      dan betull kalo di jogja, atau di manapun, pecel ya pecel, gudeg ya gudeg. emang beda.
      kayaknya daerah tapal kuda: jember-banyuwangi-situbondo-bondowoso ini menarik soalnya kulinernya aneh-aneh. di banyuwangi ada rujak campur soto dan pecel campur rawon. haha

      1. Nah, rujak soto ini juga tahunya justru di Jakarta. Pas ada acara festival kuliner nusantara gitu. Sepertinya aku kurang suka sih, takut bikin rik tenggorokan hehehe. Pecel campur rawon apalagi. Eh, nulis ini kok tiba-tiba pengen makan rawon. Duh, mana yang biasa jual lagi tutup lagi gara2 covid ini. Jadi kangen pulang kampung, soalnya selalu nyempetin nyicip rawon ini 😅🙏

  3. Tiap kali dengar kata “Lumintu” ingatan selalu ke restoran dengan menu makanan rumahan di salah satu terminal bandara Soeta. Lumintu itu aslinya nama daerah kah, atau ada arti katanya sendiri dalam bahasa Jawa ya Mas?

    Anyway, baca tulisan yang isinya ada tentang makanan begini selalu menimbulkan efek samping lapar ya… Hehe.

    1. ahh iyaa. aku juga kurang paham kalo soal Lumintu. aku sering denger Lumintu ini sebuah warung pinggir jalan di pantura biasanya mas. menunya bener, masakan rumahan. tapi korelasi dengan ini aku kurang tahu, kemarin belum kepikiran buat tanya.

      wahh iya bener. pas bikin artikelnya berasa laper haha

  4. Noted kl kejember mau sarapan pecel lumintu juga.. Trs mo ke pantainyaaaa. Huhu
    Blm pernh ke jember nih aku. Btw senyumnya mbak Putri sumringah banget uy

  5. Aku cuma pernah ke Jember satu kali, bertahun-tahun lalu karena sempet penempatan kerja di Lumajang.
    dan saat itu cuma ke Papuma Watu Ulo aja, belum kenal kuliner dan gak tau soal es krim domino itu. Apalagi puslit kopi dan kakao, rada menyesal ya. 😉

    1. kayaknya Jember mulai menggeliat wisatanya setelah Banyuwangi ikut naik pamornya, mbak. 😀
      watu ulo aku belum hehehe. 😀
      dan tentu tambahan informasi juga. apalagi ada JFC yg bikin wisata Jember mulai naik, terus diiringi sama tempat lain. kayaknya gitu 😀

      1. mungkin kali ya, trus era instagram ini juga ternyata nambah referensi.
        dulu aku di Lumajang tahun 2012, B29 aja belum kedengeran

  6. Mahal juga ya tiket masuk pantainya sampai Rp30.000 😃 Memang segituan ya, Mas? Tapi semoga bisa bermanfaat buat ngebangun dna ngerawat pantainya sebagai tempat wisata yang memadai.

    Jember kayanya ngga pernah masuk daftar rencana liburan saya. Tapi, nampaknya menarik juga buat santai-santai nikmatin hari yang lambat ya. Ngebayanginnya kaya Blitar mungkin… Mirip kah suasananya?

    1. belum pernah ke blitar sih. jadi belum bisa jawab. hehehe.

      hahaha iya mahal. dulu pas bikin itinerary terus si putri bilang ke papuma itu shock juga begitu lihat harganya. dalam hati sih “wah kepret malah ngajakin ke pantai yg mahal.” wkwkwkwk

      tapi tempatnya sih emang sudah terawat meski tetap terlalu mahal. hahaha. kayaknya kalau mau camping lebih seru. 😀

  7. Saya juga kalo jalan jalan kadang suka ke pantai, senang saja sih liat air laut begitu apalagi pas sore lihat sunset, pemandangan nya bagus sekali.

    Lumayan juga tiket masuk pantai Tanjung Papuma Jember ya mas 30 ribu, kalo di pantai alam indah Tegal cuma 5 ribu seorang. Tapi mungkin pemandangan lebih bagus di Papuma.😃

    1. hehehe bener mas 😀
      ya emang lumayan harganya, tapi gapapa belum tentu bisa ke sana lagi 😀
      oooh murah bingit. dan pantai di pesisir utara ini masih misteri buat aku. next aku main 😀

  8. Aku masuk pantai seharga 10k aja udah ngerasa mahal, eh ini 30k astagaaaa 🥺 untung pantainy emg bagus wkwkwk.

    Kayanya keren nih main main ke kota/kabupaten yang gabegitu mainstream jadi tempat liburan. Aku jadi ingin mencobaaaaa

    1. hahaha. iya, awalnya juga ngerasa kemahalan. tapi seingatku ini sudah termasuk parkir dan bahkan camping. seingatku lho ya.

      hmm. kalo dibanding banyuwangi emang kalah mainstream sih, tapi jember termasuk yang biasa dikunjungi juga kok. papuma ini juga termasuk mainstream. apalagi kalo pas ada Jember Fashion Carnival. hehe.

      1. Ahh I see. Kalau udah ada tambahan gitu okelah 30k, tapi kalau kita ga ngecamp sayang jg gaksih 🙁 wkwk mon maap itungan.

        Tapi kan gak populer gitu liburan ke Jember, kayak kalah pamor sama kota kota di Jatim yang lainnya kyk Malang, Blitar, Kediri.. atau mungkin emang akunya aja yang kudet jadi ngerasa Jember agak kurang famous? Wkwkk

        1. ahahaha. ya gapapa itungan. aku juga pas itu itungan sebenernya, tapi ya gapapa lah. namanya juga belum pernah ke papuma. apalagi kalo liat di sosmed, papuma cakep banget.

          hahaha. kalo dibanding malang, iya sih. 😀

Leave a Reply to Gallant Tsany Abdillah Cancel reply