Braga Tempat Sempurna untuk Jatuh Cinta

Aku tengah duduk di dalam bangku kereta dengan sandaran yang tegak lurus, membentuk sudut sembilan puluh derajat. Malam itu cerah, meneruskan langit sore yang berwarna merah merekah. Sementara itu, pendingin ruangan menyemburkan udara dingin yang teramat kencang, beberapa penumpang tampak kedinginan dan mengenakan jaket-jaket tebal mereka. Aku melihat ke luar jendela. Sesekali hanya gelap yang tampak, sesekali hanya rumah-rumah yang sepi dengan lampu remang-remangnya. Lantas aku berpikir, ketika para penghuni rumah sedang asyik bercengkerama dengan keluarga, menonton kontes menyanyi, atau mungkin sudah ada yang tertidur, ada sebagian orang yang sedang dalam perjalanan untuk bisa segera bertemu keluarga. Atau cintanya. Kahuripan menembus gelapnya malam menuju stasiun akhir Kiaracondong, Bandung.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Fajar Sendu Situ Cileunca

02 September 2018.

Tengah malam tepat, kereta Pasundan tiba di Stasiun Kiaracondong—Bandung, setelah menempuh perjalanan panjang, kurang lebih sembilan jam dari Lempuyangan—Yogyakarta. Aku melangkah menuju musala untuk menunaikan salat. Secara naluri, aku mengeluarkan ponsel, bermaksud menghubungi seseorang. Namun urung. Aku hanya tersenyum simpul dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. Karena kini aku tak mungkin dan tak ada guna lagi menghubunginya. Kami telah usai.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Gunung Padang – Curug Cikondang part 2 (Buntut Panjang Keterlambatan)

Menyianyiakan waktu merupakan sebuah dosa besar yang akan berbuntut panjang

Setelah menjalani sebuah perjalanan penuh pengalaman, mulai dari menjelajahi terowongan, berjalan kaki menyusuri rumah dan sawah, naik truk hanya bermodalkan jempol, hingga mendaki tangga menuju surga yaitu puncak Gunung Padang. Beberapa pengalaman mulai dari berjalan kaki sampai dicium oleh ranting yang berujung pada luka di alis sebelah kiri sudah aku rasakan namun cerita kali ini lebih seru dan menegangkan. Menuju ke Curug Cikondang yang penuh dengan tantangan, hanya berbekal harapan dan imajinasi yang menuntun kami ke sana.

Curug Cikondang

Sekitar jam 17.00 kami meneruskan perjalanan kami dari warung yang super murah dan ibunya yang baik hati di area Gunung Padang. Petunjuk yang diberikan ibu penjaga warung tersebut cukup jelas, “ikuti saja jalan setapak lewat Gunung Rosa sampai ketemu jalan raya, nanti sudah dekat dan tinggal turun menuju curug dengan waktu tempuh kira-kira 1 jam perjalanan”. Kami dengan mantap mulai berjalan setapak demi setapak menyusuri persawahan. Pemandangan yang sangat indah di sisi kiri perjalanan dengan terasering persawahan. Sesuai ekspektasi tanah desa yang asri ditambah dengan suasana sehabis hujan yang cukup sejuk.

Perjalanan kali ini lebih menantang, jika dibandingkan dengan menyusuri persawahan pada perjalanan sebelumnya. Jalanan yang ditempuh becek sehabis hujan, perjalanan tidak bisa cepat meskipun baru saja mengisi tenaga di warung tadi. Jalanan licin bercampur lumpur membuat kami harus berhati-hati memilih jalan yang bisa dilewati, salah-salah bisa terpeleset seperti yang terjadi pada mas Adit (#kamusabaro mas adit). Selain harus pandai-pandai memilih jodoh jalan, ternyata peralatan awal wajib bawa yang kemarin disepakati sangat menentukan. Kali ini banyak korbannya, beberapa orang tidak menggunakan alas kaki yang standar yang menyebabkan sering kali terpelosok, terpelest, dan terlambat datang bulan *lah.
baca aja lanjutannya