Braga Tempat Sempurna untuk Jatuh Cinta

Aku tengah duduk di dalam bangku kereta dengan sandaran yang tegak lurus, membentuk sudut sembilan puluh derajat. Malam itu cerah, meneruskan langit sore yang berwarna merah merekah. Sementara itu, pendingin ruangan menyemburkan udara dingin yang teramat kencang, beberapa penumpang tampak kedinginan dan mengenakan jaket-jaket tebal mereka. Aku melihat ke luar jendela. Sesekali hanya gelap yang tampak, sesekali hanya rumah-rumah yang sepi dengan lampu remang-remangnya. Lantas aku berpikir, ketika para penghuni rumah sedang asyik bercengkerama dengan keluarga, menonton kontes menyanyi, atau mungkin sudah ada yang tertidur, ada sebagian orang yang sedang dalam perjalanan untuk bisa segera bertemu keluarga. Atau cintanya. Kahuripan menembus gelapnya malam menuju stasiun akhir Kiaracondong, Bandung.

******

Gedung Bank Mandiri Bandung – Jalan Asia Afrika

Pagi itu, langit di Bandung sangat cerah. Semesta seakan mendukungku untuk menyelesaikan sedikit urusan penting di kota ini. Mengendarai motor matic adikku, aku menuju Bandung selatan, daerah yang tidak ada Bandung-Bandungnya sama sekali alias panas dan berdebu. Namun di Bandung selatan aku masih menjumpai jalan-jalan kampung yang kecil, beberapa anak sekolah dengan pakaian pramuka berwarna coklat sedang membeli makanan di luar sekolah, sebagian dari mereka ada yang pulang bersama-sama berjalan kaki, anak laki-laki bermain sepak bola di sebuah lapangan kecil, dan sawah-sawah yang membentang luas. Aku merasa jalanan ini tampak tidak asing, seperti berada di dekat rumah, meski berbeda arah. Atau jangan-jangan seharusnya jalan ini adalah jalan yang aku lalui untuk menuju ke rumah. Seharusnya.

Dalam urusan yang maha penting itu, aku berada di sekitar orang-orang yang aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Beruntung pada bagian-bagian penting masih bisa kuterka-terka maknanya. Tidak ada bercandaan saat itu, semua serius, tegang. Sempat aku diajak bicara oleh seorang ibu dengan bahasa mereka, tapi aku hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk saja. Maaf, Ibu, aku tidak mengerti. Urusan itu selesai dalam waktu singkat saja, memakan waktu tidak lebih dari tiga jam.

Aku duduk di sebuah bangku berdekatan dengan jendela, di bilangan Braga, dengan sebuah buku catatan kecil di depan meja. Siapa menyangka setelah seharian panas, Bandung mendadak diguyur hujan rintik-rintik di sore harinya. Seorang gadis dengan kaus berwarna hitam dengan luaran berwarna abu-abu bergaris hitam, bercelana jeans warna biru, serasi dengan jilbab dan sepatunya yang sama-sama berwarna kuning datang menghampiriku. Meski hanya riasan yang sederhana, ia tampak cantik sekali. Kami bersalaman tanpa menyentuhkan telapak tangan masing-masing. Basa-basi ia menanyakan kabar dan bertanya apakah aku sudah lama menunggunya. Tentu saja “belum” adalah jawabannya. Meski sudah menunggu hingga lima atau sepuluh tahun, masih mulus atau sudah keriput, masih gadis atau sudah janda, aku akan tetap setia dengan jawaban “belum” karena menunggunya bukanlah hal yang sia-sia.

Lukisan Terpajang di Jalan Braga

Aku segera mengemasi barang-barang di depan meja dan beranjak pergi, mengekornya. Berjalan menyusuri Jalan Braga, melihat-lihat bangunan-bangunan megah nan bersejarah. Kami, aku lebih tepatnya, memang sudah merencanakan untuk itu dan kebetulan ia menyanggupi untuk menemani.

Gedung Bank Indonesia di Ujung Jalan Braga
Sisi Samping Gedung Bank Indonesia – Jalan Braga

Kami berhenti di depan gedung Bank Indonesia. Gaya art-deco seperti ini adalah menjadi keahlian seorang arsitektur Belanda bernama Eduard Huypers. Beliau bersama dengan Arthur Fermont dan Marius J. Hulswit inilah yang mendesain gedung ini. Ia mulai bercerita, dulu gedung ini dimiliki oleh De Javasche Bank, Bank Indonesia-nya Hindia Belanda waktu. Gedung Bank Indonesia ini terdiri dari dua bangunan: Gedung Perintis dan Gedung Braga.

Hujan tak jua mereda, langit masih senantiasa menyembunyikan diri di balik awan-awan kelabu. Tampaknya hujan rintik-rintik masih belum akan berhenti dalam waktu dekat. Kami kemudian menyusuri trotoar dengan berhati-hati agar tidak terpeleset, tanpa payung memayungi kami. Sedikit basah tidak apa-apa. Di seberang sebuah kedai kopi, ia kembali bercerita.

Kedai Kopi Toko Djawa 79 – Jalan BRaga

Kopi Toko Djawa 79. Begitu tulisan terpampang di depannya. Sebuah kedai kopi yang kecil dengan magnet yang luar biasa. Pengunjungnya ramai. Ia berkata bahwa kedai kopi itu dulunya bukan kedai kopi. Sebuah toko buku terlengkap pada zamannya, begitu adalah julukan yang melekat pada Toko Djawa. Sayangnya toko ditutup pada tahun 2015 dan beralih fungsi sebagai kedai kopi. Sang pemilik kedai sengaja tidak mengubah desain bangunan agar segala kenangan yang tertambat di Toko Djawa tak hilang. Kamipun berjalan meninggalkan Kopi Toko Djawa.

Jalan Braga, Tempat Para Pelukis Menjual Karyanya
Trotoar Selepas Hujan – Jalan Braga

Kami berjalan dengan perlahan, bercerita tentang kehidupan masing-masing. Selama ini, kami hanya bersua melalui kanal-kanal sosial media. Aku meyakini, kata-kata yang kami lempar selama ini maupun emoji-emoji yang luar biasa banyak itu tak akan bisa menggantikan suara-suara dan ekspresi muka serta gerak tubuh. Bercengkrama memang terasa lebih menghanyutkan.

Jalan Braga Selepas Hujan

Sepanjang jalan Braga yang sedang sedikit basah oleh hujan, banyak juga yang sedang lalu lalang. Di akhir pekan begini, Braga macet sekali dengan ruas jalan yang tidak terlalu besar. Di kanan kirinya, banyak pelukis-pelukis jalanan yang tak cuma melukis tapi juga menjual lukisan-lukisannya. Mereka menempelkan karya-karya dalam kanvas dan mengaitkan ke dinding-dinding. Rupanya, hal ini sudah berlangsung sejak lama di Braga. Tampak juga beberapa pengamen jalanan dengan alat musik modern sedang bernyanyi di sudut-sudut jalan. Tidak berkeliling seperti biasanya. Persis seperti yang aku lihat dalam video-video perjalanan di Eropa.

Hotel Savoy Homann – Jalan Asia Afrika

Kami sampai di depan Hotel Savoy Homann. Ia menceritakan bahwa dulu nama Homann dalam hotel ini merujuk pada pemilik aslinya. Sejak pembukaan jalan pos oleh Daendels, Bandung menjadi semakin ramai. Banyak bangunan-bangunan penting yang didirikan, termasuk hotel Homann, nama mula hotel ini. Semasa Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, Hotel Savoy Homann mendapat jatah sebagai tempat menginap beberapa orang penting dari berbagai negara. Sebelum menjadi semegah sekarang, Hotel Homann didesain dengan gaya Gothic-Romantic. Di seberang hotel, terdapat monumen kecil bertuliskan Bandung nol kilometer. Di situlah titik nol Bandung. Tempat yang diyakini sebagai lokasi Daendels menancapkan tongkatnya.

Gedung De Vries – Gedung OCBC – Jalan Asia Afrika
Gedung De Vries – Jalan Asia Afrika

Di sebelah Hotel Savoy Homann berdiri Gedung De Vries atau Bank OCBC saat ini. Dalam buku karya Haryanto Kunto menceritakan bagaimana Gedung De Vries ini menjadi tempat para meneer membeli minuman-minuman keras yang dijual di sana. Gedung De Vries adalah sebuah toko serba ada, menjual segala kebutuhan manusia termasuk minuman keras. Dalam sebuah kisah, pada sekali tempo di malam Minggu, pintu toko terkunci rapat tanpa penjaga. Vries sekeluarga pergi pesta. Besok paginya didapati pintu toko telah terbuka dengan kunci yang terbongkar. Segepok uang di atas meja, botol-botol minuman keras licin tandas dari etalase dan rak di gudang. Begitu kira-kira yang ditulis Haryanto Kunto, menceritakan kelakuan para pengusaha perkebunan yang tak bisa lepas dari minuman keras.

Sekali waktu ia tampak menyeka butir-butir air di jaket yang menutupi bajunya. Aku memperhatikan dari sisi kanan, ia serius mengibas butir-butir air, menyeka wajahnya yang sedikit basah. Aku semakin menyadari kalau ia memang benar-benar cantik. Tak terukur.

Kami sampai di Gedung Merdeka, atau yang dulu dikenal sebagai Gedung Sociteit Concordia. Sudah terlalu sore bagi kami untuk sekadar melihat ke dalam gedung meski dari depan pintu. Museum Konferensi Asia Afrika masih ramai meski tidak ada tanda-tanda sedang dibuka. Muda-mudi menghabiskan waktu sorenya sekadar mengobrol di teras luar yang sudah terpasang tenda dan kursi-kursi. Gedung mewah itu sejak dulunya juga spesial, hanya orang-orang tertentu yang dapat memasuki Gedung Sociteit Concordia. Hanya kaum sociteit saja yang dibolehkan masuk. Sementara pribumi harus gigit jari. Di dalamnya, kaum sociteit itu lantas berpesta, mungkin dugem adalah istilah yang cocok untuk saat ini.

Gedung Merdeka – Jalan Asia Afrika Bandung

Braga memang luar biasa bagiku, suasana vintagenya seakan membawaku kembali menyelami kehidupan Bandung lampau. Bagaimana saat itu banyak sekali muda-mudi yang jatuh cinta dan menghabiskan sesorean bersama pasangannya. Bergandengan tangan atau menggamit lengan dengan pakaian terbaik mereka. Kemudian bercerita dan melepas rindu-rindu ke udara. Braga, akan dipenuhi oleh hawa-hawa kerinduan yang menemukan temu. Menghabiskan sore tidak akan pernah lebih baik daripada itu. Suasana Braga memang merepresentasikan apa yang sudah sering kita baca, sebuah kutipan dari Pidi Baiq, “Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” Karena memang Bandung semagis itu.

Kami duduk-duduk di teras Masjid Agung Bandung sembari menunggu azan magrib berkumandang. Membicarakan tentang kami, di masa lalu dan masa depan. Kami saling bertanya dan menjawab. Selama itu pula aku tak berani menatap matanya. Bagian tubuh yang membuatku jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu. Mata indahnya itu tak pernah sanggup untuk aku pandang langsung. Pada sore yang basah menjelang azan magrib, di teras Masjid Agung Bandung itu kami sepakat tidak hanya mengakhiri perjalanan sore, tapi juga mengakhiri kebersamaan kami. Hubungan kami.

Berjalan Bersama di Jalan Braga

******

Tepat pukul sembilan malam, keretaku dengan perlahan meninggalkan Stasiun Kiaracondong, Bandung. Perlahan jendela di sebelah kiriku menjadi basah pada bagian luar. Hujan turun perlahan. Rasanya, belum genap segala rasa ini terjawab tapi kenyataannya memang aku harus meninggalkan. Di Bandung, aku semakin menegaskan apa yang aku rasakan dulu, sejak pertama bertemu di Yogyakarta. Memang benar bila ada yang mengatakan bahwa Bandung dan Yogyakarta adalah tempat sempurna untuk jatuh cinta. Dan patah hati.

Author: Gallant Tsany Abdillah

Suka jalan-jalan dan menggalau tentang apapun. Pengen punya kamera (dan pacar) sendiri. Kerjasama dapat menghubungi ke alamat email: gallanttsany@gmail.com

8 thoughts on “Braga Tempat Sempurna untuk Jatuh Cinta”

  1. Pernah sekali berkesempatan bermalam di Hotel Savoy Homann, kalau malam agak-agak spooky sih menurut saya. Mungkin karena suasana masa lampaunya kental banget mungkin ya.

    Yang patut diacungi jempol dari pemerintah Bandung soal Braga salah satunya adalah soal ruas jalan yang dipaving dengan batu alam. Konsep seperti itu masih jarang banget di Indonesia. Semoga suatu waktu jalan Braga bisa benar-benar dikhususkan untuk pejalan kaki dan ditutup murni dari kendaraan bermotor, biar suasananya bisa semakin dinikmati saat berjalan kaki.

Leave a Reply to Gallant Tsany Abdillah Cancel reply