Kawasan Hutan Mangrove Wonorejo Surabaya

Cuaca Surabaya memang sedang luar biasa terik hari itu. Tak tanggung-tanggung, melalui sebuah aplikasi pada telepon pintar milik temanku, Dhita, suhu di Surabaya mencapai 32° dalam skala Celsius. Sepertinya cukup panas untuk dapat mengeringkan cucian dalam setengah hari saja. Setelah aku menuntaskan keinginan untuk mengenang Siola, kami (Aku dan Dhita) sejenak menyusuri Jalan Tunjungan sembari berfoto. Namun karena suhu yang cukup terik, kami memutuskan hanya sampai di depan Hotel Majapahit saja, dan kembali ke tempat parkir, di basement Siola. Dari sana, kami menaiki motor menuju ke Hutan Mangrove, di Wonorejo, Surabaya.

Continue reading “Kawasan Hutan Mangrove Wonorejo Surabaya”

Menyiksa Lidah di Ayam Geprek Bu Rum

Yogyakarta sedang dilanda kegalauan. Hujan turun sejak sore, di penghujung bulan April. Saat-saat yang kurang lazim untuk turun hujan. Hujan pun turun tak serta merta langsung mencecar bumi. Hanya rintik-rintik yang cepat berlalu. Dan menikmati ayam geprek, tentu cara yang tepat menikmatinya.

Hujan sebentar datang, lalu hilang, begitu berulang hingga magrib tiba. Aku tak perlu menyamakan itu dengan gebetan-gebetanmu yang hanya datang menyapa di saat dia butuh. Meski begitu kehadirannya (baca: hujan) tetap mampu membasahi sepanjang jalanan Yogyakarta. Pun gebetanmu bukan?

Continue reading “Menyiksa Lidah di Ayam Geprek Bu Rum”

Bakso Aneka Rasa Tuban

“Mau diantar sampai mana, Mbak Lies?”

“Bakso Aneka Rasa saja.”

Itu adalah dua buah percakapan yang masih aku ingat hingga sekarang. Percakapan itu terjadi lampau. Ketika Lies sekeluarga bertandang ke rumah kakaknya di Tuban. Lalu adegan berikutnya adalah, mereka – Lies Sekeluarga, diantar oleh keponakannya ke Bakso Aneka Rasa. Siapa mereka?

Continue reading “Bakso Aneka Rasa Tuban”